Davos, Pelopor Permen Mint Indonesia yang Bertahan Hampir Satu Abad
Permen Davos telah hadir sejak 1931 dan menjadi salah satu pelopor permen mint di Indonesia. Simak kisah brand legendaris yang bertahan lintas generasi.
Permen Davos telah hadir sejak 1931
INFOBRAND.ID – Di tengah cepatnya perubahan industri makanan dan minuman, mempertahankan sebuah merek selama puluhan tahun bukan perkara mudah. Selera konsumen berubah, teknologi produksi berkembang, strategi pemasaran bergeser, sementara generasi konsumen terus berganti.
Namun, ada satu merek asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang tetap mempertahankan eksistensinya hingga lebih dari sembilan dekade. Permen Davos, yang diproduksi PT Slamet Langgeng, telah hadir sejak 28 Desember 1931 dan dikenal luas sebagai salah satu pelopor permen mint di Indonesia.
Menariknya, kekuatan Davos bukan semata-mata terletak pada agresivitas promosi atau inovasi produk. Justru, konsistensi rasa, jaringan distribusi yang telah terbentuk sejak lama, serta hubungan kekeluargaan antara perusahaan dan karyawan menjadi bagian dari cerita panjang keberlangsungan brand ini.
Lahir di Purbalingga pada 1931
Perjalanan Davos dimulai ketika Siem Kie Djian mendirikan usaha yang kemudian berkembang menjadi PT Slamet Langgeng pada 28 Desember 1931.
Pada masa awalnya, produksi dilakukan dalam skala sederhana. Distribusi permen bahkan dilakukan menggunakan gerobak sapi untuk menjangkau wilayah Purbalingga, Banyumas hingga Cilacap. Seiring perkembangan usaha, jaringan distribusinya semakin luas.
Nama Davos sendiri terinspirasi dari Davos, sebuah kota di Swiss yang dikenal memiliki udara dingin dan sejuk. Nama tersebut dianggap sesuai dengan karakter permen yang memberikan sensasi dingin dan menyegarkan dari peppermint.
Sementara itu, nama Slamet Langgeng memiliki keterkaitan dengan wilayah Purbalingga sekaligus menjadi harapan agar perusahaan dapat terus bertahan dan berkembang.
Disebut sebagai Pelopor Permen Mint Indonesia
Davos kerap disebut sebagai permen mint pertama di Indonesia atau pelopor permen mint Tanah Air yang masih bertahan hingga sekarang.
Istilah tersebut memiliki konteks sejarah tersendiri. Pada masa awal Davos diproduksi, istilah yang digunakan pada kemasannya adalah “kembang gula”. Sebutan “permen” kemudian semakin umum digunakan masyarakat untuk menyebut produk kembang gula, termasuk produk dengan sensasi peppermint.
Dengan usia produksi yang telah melewati 90 tahun, Davos menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah produk lokal dapat mempertahankan identitasnya dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Bentuk permen putih berbentuk tablet, kemasan yang khas, serta sensasi mint yang kuat menjadi elemen yang membuat produk ini mudah dikenali.
Pernah Berjaya Sebelum Indonesia Merdeka
Davos tidak lahir dalam kondisi industri yang sudah mapan. Justru, pabrik ini tumbuh pada masa ekonomi Hindia Belanda mengalami tekanan akibat depresi ekonomi global.
Sebuah penelitian sejarah yang terbit pada 2026 mencatat bahwa pabrik Davos didirikan pada 1931 dan mampu mempertahankan keberlangsungannya di tengah tekanan ekonomi pada periode 1931–1939. Penelitian tersebut mengidentifikasi beberapa faktor, antara lain diversifikasi produk, konsistensi kualitas dan cita rasa, penyesuaian skala produksi dengan kondisi pasar, serta kuatnya jaringan sosial internal perusahaan.
Pada periode perkembangannya, PT Slamet Langgeng tidak hanya memproduksi permen. Perusahaan juga sempat membuat limun dan biskuit, menunjukkan bahwa diversifikasi telah menjadi bagian dari perjalanan bisnis perusahaan sejak masa awal.
Davos sendiri pernah mengalami masa kejayaan pada dekade 1930-an. Namun, ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, aktivitas produksi dan distribusi mengalami tekanan. Setelah Indonesia merdeka, perusahaan kembali bangkit dan meneruskan produksinya.
“Semriwing” yang Dipertahankan
Salah satu aset terbesar Davos adalah sesuatu yang sederhana: rasa.
Karakter mint yang memberikan sensasi “semriwing” menjadi identitas yang melekat pada produk. Bahkan ketika industri permen berkembang dengan berbagai rasa, bentuk, warna dan kemasan baru, Davos tetap mempertahankan karakter utamanya.
Dalam laporan mengenai pabrik Davos, disebutkan bahwa produk tersebut menggunakan mayoritas gula pasir dan mentol sebagai komponen utama, tanpa penggunaan pengawet dan pemanis buatan menurut keterangan pengelola pada saat itu.
Konsistensi inilah yang kemudian membentuk hubungan emosional dengan konsumen.
Davos tidak hanya dibeli karena rasa manis atau sensasi mint-nya. Bagi konsumen yang telah mengenalnya sejak lama, satu bungkus Davos dapat membawa kembali memori masa lalu.
Bukan Sekadar Produk, Ada Hubungan Kekeluargaan
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Davos justru berada di balik proses produksinya.
Dalam pemberitaan Kompas mengenai pabrik Davos, hubungan antara perusahaan dan karyawan digambarkan sebagai salah satu faktor yang menjaga keberlangsungan usaha. Banyak karyawan telah bekerja selama puluhan tahun dan sebagian bahkan meneruskan tradisi tersebut kepada anggota keluarganya.
Salah satunya adalah Saliyan, yang dalam laporan tersebut disebut telah bekerja di Davos sejak 1971. Ia kemudian bertemu dengan istrinya di lingkungan kerja yang sama, sementara kedua anak mereka juga bekerja di pabrik tersebut.
“Saya bekerja di sini sejak masih bujang sampai punya 11 cucu. Kerja di sini enak, gajinya lancar. Kami dianggap keluarga,” ujar Saliyan dalam laporan Kompas yang dikutip Perpustakaan Universitas Ciputra.
Cerita tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan sebuah brand tidak selalu hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Manusia yang berada di belakang brand juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
“Kalau Ingin Berbisnis, Tidak Boleh Hanya Menguntungkan Diri Sendiri”
Nilai kekeluargaan tersebut juga tercermin dari pernyataan Iing Tedjo, yang saat itu menjadi bagian dari pengelola perusahaan.
Dalam laporan Kompas, Iing menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan karyawan dalam menjalankan bisnis.“Jika ingin berbisnis, tidak boleh hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga mesti berbagi dengan karyawan.”
Prinsip tersebut menjadi menarik jika dilihat dari perspektif bisnis modern. Ketika banyak perusahaan berbicara mengenai employee engagement, budaya organisasi dan employee retention, Davos telah menjalankan pendekatan berbasis hubungan kekeluargaan selama puluhan tahun.
Bahkan, menurut laporan tersebut, sebagian karyawan telah bekerja selama beberapa dekade dan anak-anak mereka kemudian mengikuti jejak orang tuanya bekerja di perusahaan yang sama.
Konsistensi di Tengah Tren Inovasi
Davos mungkin tidak terlihat seperti brand yang mengejar setiap tren pasar.
Sebuah artikel Hipwee pada 2023 bahkan menyoroti bagaimana Davos tetap eksis meskipun relatif minim inovasi pada rasa dan kemasan dibandingkan produk permen modern.
Namun, justru di situlah kekuatan brand heritage Davos.
Produk dengan bentuk dan rasa yang konsisten menciptakan identitas yang mudah dikenali. Konsumen tidak perlu bertanya-tanya apakah produk yang mereka beli hari ini masih memiliki rasa yang sama seperti yang mereka kenal sejak dahulu.
Di sisi lain, perusahaan juga tidak sepenuhnya menutup diri terhadap perkembangan pasar. Dalam perjalanan produknya, Davos memiliki sejumlah varian seperti Davos Roll, Davos Lux, Davos Classic dan Davos Mini.
Artinya, konsistensi tidak selalu berarti berhenti beradaptasi. Produk dapat dikembangkan, sementara identitas utama tetap dipertahankan.
Dari Pabrik Lokal Menjadi Warisan Purbalingga
Hampir satu abad perjalanan Davos juga tidak dapat dipisahkan dari Purbalingga.
Pabrik yang menjadi cikal bakal produksi Davos masih berada di Jalan Ahmad Yani No. 67, Kandang Gampang, Purbalingga, Jawa Tengah.
Dari sebuah usaha yang pada awalnya mendistribusikan produk menggunakan gerobak sapi, perusahaan kemudian berkembang hingga memiliki jaringan distribusi dengan kendaraan operasional.
Penelitian sejarah terbaru juga menempatkan keberadaan pabrik Davos sebagai bagian dari sejarah industri lokal Purbalingga. Studi tersebut menyebut bahwa keberlangsungan pabrik tidak hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Menuju Usia 100 Tahun
Jika dihitung dari berdirinya perusahaan pada 28 Desember 1931, perjalanan Davos akan mencapai satu abad pada 2031.
Bagi sebuah produk konsumen, usia hampir 100 tahun merupakan perjalanan yang tidak biasa. Apalagi Davos melewati berbagai fase sejarah Indonesia: masa kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, perubahan ekonomi, perkembangan industri modern hingga era digital.
Namun, identitas utama produk tersebut masih dapat dikenali hingga sekarang.
Dari Purbalingga, Davos membuktikan bahwa membangun brand tidak selalu harus dilakukan dengan mengikuti setiap perubahan tren. Ada kalanya, konsistensi justru menjadi bentuk inovasi tersendiri.
Selama rasa, identitas dan hubungan dengan konsumen tetap terjaga, sebuah brand dapat memiliki kesempatan untuk melewati lebih dari satu generasi.
Dan ketika usia Davos mendekati 100 tahun, kisahnya bukan lagi sekadar cerita tentang sebuah permen mint. Davos telah menjadi bagian dari sejarah industri lokal, warisan keluarga, sekaligus salah satu contoh longevity brand Indonesia.


