Konsumen Makin Kritis, Merek Tak Bisa Lagi Asal Jualan
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc., pakar sekaligus Professor of Consumer Behaviour dari IPB University, menyampaikan seminar dengan Tema Customer Behavior in The Digital Era dalam The 42nd INFOBRAND FORUM 2026.
INFOBRAND.ID — Era digital telah mengubah konsumen sekaligus cara merek memenangkan persaingan. Jika dahulu kualitas produk dan harga menjadi senjata utama, kini keduanya saja tidak cukup. Konsumen semakin kritis, cepat mengambil keputusan, mudah berpindah merek, dan memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi konsumen lainnya.
Di tengah perubahan tersebut, merek yang gagal memahami perilaku konsumen digital berisiko kehilangan relevansi. Sebaliknya, perusahaan yang mampu membaca kebutuhan, kebiasaan, hingga perjalanan konsumen di ekosistem digital memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar.
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc., pakar sekaligus Professor of Consumer Behaviour dari IPB University, menegaskan bahwa memahami Customer Behavior in The Digital Era kini telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan.
“Customer Behavior in The Digital Era bukan lagi sekadar nice-to-have, tetapi menjadi fondasi penting bagi strategi bisnis. Perubahan perilaku konsumen berlangsung sangat cepat dan merek harus mampu beradaptasi jika ingin tetap relevan,” ujar Prof. Ujang.
Konsumen Kini Pegang Kendali
Perkembangan teknologi digital telah mendemokratisasi informasi. Konsumen tidak lagi bergantung sepenuhnya pada komunikasi yang disampaikan merek. Mereka dapat mencari informasi sendiri, membandingkan produk dan harga, membaca ulasan, melihat pengalaman pengguna lain, hingga menentukan pilihan hanya dalam hitungan detik.
Situasi ini membuat konsumen memiliki daya tawar yang semakin besar. Mereka bukan lagi sekadar penerima pesan pemasaran, tetapi menjadi pihak yang aktif menentukan apakah sebuah merek layak dipilih atau ditinggalkan.
Karakter tersebut semakin terlihat dari munculnya impatient culture. Konsumen menginginkan semuanya serba cepat dan mudah. Lambat merespons pesan, proses transaksi yang rumit, navigasi platform yang tidak nyaman, atau layanan yang mengecewakan dapat dengan cepat menjadi alasan konsumen berpaling.
Di saat yang sama, social proof semakin menentukan. Review, rating, rekomendasi content creator, percakapan di media sosial hingga pengalaman konsumen lain dapat menjadi faktor yang lebih dipercaya dibandingkan klaim promosi merek sendiri.
Tak kalah penting, konsumen kini bergerak secara omnichannel. Mereka bisa mengenal sebuah produk dari media sosial, mencari informasi melalui mesin pencari, membandingkan harga di marketplace, melihat produk di toko fisik, kemudian melakukan transaksi melalui kanal digital.
Artinya, konsumen tidak lagi mengikuti jalur yang dirancang merek. Justru merek yang harus mengikuti perjalanan konsumennya.
Salah Baca Konsumen, Siap-Siap Ditinggalkan
Perubahan tersebut membawa konsekuensi serius bagi perusahaan. Hambatan konsumen untuk berpindah merek semakin rendah. Kompetitor hanya berjarak beberapa kali click dari konsumen.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengetahui siapa target pasarnya. Merek harus memahami bagaimana konsumen mencari informasi, apa yang memengaruhi keputusan pembelian, pengalaman seperti apa yang mereka harapkan, serta alasan yang membuat mereka bertahan atau berpindah.
Pemahaman tersebut dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif melalui empat aspek utama.
Pertama, personalisasi pengalaman konsumen. Konsumen semakin mengharapkan komunikasi, rekomendasi, dan penawaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Data perilaku digital dapat membantu merek menghadirkan pengalaman yang lebih relevan.
Kedua, efisiensi pemasaran. Data digital memungkinkan perusahaan mengetahui kanal, konten, dan pendekatan yang paling efektif menjangkau konsumen. Strategi pemasaran pun dapat diarahkan lebih presisi, sekaligus mengoptimalkan investasi yang dikeluarkan.
Ketiga, loyalitas dan retensi. Ketika berpindah merek semakin mudah, pengalaman konsumen menjadi faktor penting untuk mempertahankan pelanggan. Merek harus mampu menemukan pain points dalam setiap tahapan customer journey dan menyelesaikannya sebelum berubah menjadi kekecewaan.
Keempat, inovasi berbasis data. Perilaku konsumen meninggalkan jejak digital yang dapat menjadi sumber informasi mengenai tren, kebutuhan yang belum terpenuhi, hingga kelemahan produk. Perusahaan yang mampu membaca data tersebut dapat melakukan inovasi dengan lebih cepat dan relevan.
Bukan Sekadar Punya Data
Namun, memiliki data konsumen dalam jumlah besar tidak otomatis membuat perusahaan memahami konsumennya. Tantangan sebenarnya adalah mengubah data menjadi customer intelligence yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Menurut Prof. Ujang, perusahaan perlu memetakan customer journey secara menyeluruh, mulai dari awareness, consideration, purchase hingga post-purchase. Setiap titik interaksi harus memberikan pengalaman yang konsisten dan minim hambatan.
Perusahaan juga perlu membangun budaya customer-centric. Pemahaman terhadap konsumen tidak boleh berhenti di departemen marketing, tetapi harus menjadi bagian dari cara organisasi mengambil keputusan.
Di sisi lain, agilitas menjadi semakin penting. Tren digital dapat berubah dalam waktu singkat. Apa yang efektif hari ini belum tentu relevan beberapa bulan ke depan. Merek yang lambat membaca perubahan akan memberi ruang bagi kompetitor untuk merebut konsumen.
“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana perusahaan memahami konsumennya dan menggunakan teknologi untuk memberikan solusi yang relevan. Merek yang paling memahami konsumennya memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan,” jelas Prof. Ujang.
Perang Merek Bergeser ke Kepala Konsumen
Pada akhirnya, persaingan bisnis di era digital bukan lagi sekadar perang produk, harga, atau promosi. Medan persaingan telah bergeser ke pemahaman terhadap konsumen.
Merek dengan produk bagus tetapi gagal memahami perilaku konsumennya dapat dengan mudah dikalahkan oleh merek yang lebih responsif. Sebaliknya, perusahaan yang mampu membaca kebutuhan konsumen, memberikan pengalaman yang relevan, serta bergerak cepat mengikuti perubahan memiliki peluang lebih besar untuk membangun loyalitas dan memenangkan pasar.
Di era ketika konsumen memegang kendali, merek tak bisa lagi sekadar menjual. Mereka harus memahami. Sebab, salah membaca konsumen hari ini bisa berarti kehilangan pasar esok hari.


