E-Commerce Makin Sengit, Ini Strategi Brand Merebut Konsumen Digital
Tri Raharjo, CEO TRAS N CO Indonesia memaparkan riset “Brand Choice Index for Health & Beauty, Home & Living dan Mom & Kids”, dalam kegiatan The 42nd INFOBRAND FORUM 2026.
INFOBRAND.ID — Persaingan bisnis di kanal digital kian memasuki fase baru. Pertumbuhan transaksi e-commerce tidak lagi cukup dimaknai sebagai peluang penjualan, tetapi juga menjadi arena pertarungan brand dalam merebut perhatian, kepercayaan, hingga loyalitas konsumen.
Di tengah perilaku konsumen yang semakin digital, kemampuan membaca data transaksi sekaligus memahami preferensi konsumen menjadi modal penting bagi brand untuk memenangkan persaingan. Hal tersebut terungkap dalam pemaparan Brand Choice Index yang dilakukan TRAS N CO Indonesia, yang membedah lanskap kompetisi brand di tiga sektor utama, yakni Health & Beauty, Home & Living, serta Mom & Kids.
CEO TRAS N CO Indonesia, Tri Raharjo, mengungkapkan, riset tersebut menggunakan data riil marketplace di Indonesia untuk memotret perilaku belanja konsumen sekaligus melihat bagaimana persaingan brand berlangsung di masing-masing kategori.
“Persaingan di e-commerce bukan hanya soal siapa yang paling banyak bertransaksi. Brand harus mampu memahami apa yang dicari konsumen, bagaimana konsumen membandingkan produk, bagaimana mereka memberikan review, hingga faktor apa yang akhirnya mendorong mereka memilih sebuah brand,” ujar Tri Raharjo.
Health & Beauty Jadi Mesin Transaksi Digital
Sektor Health & Beauty menjadi salah satu arena dengan geliat transaksi paling besar. Riset terhadap 2.688 brand di 201 kategori produk mencatat akumulasi transaksi mencapai 763,8 juta transaksi, tumbuh 35,2% year on year (YoY).
Tidak hanya transaksi, tingkat kepuasan konsumen juga tergolong tinggi. Sektor ini mencatat average rating 4,89 dari 5, dengan total ulasan konsumen mencapai lebih dari 255,54 juta review. Sementara pencarian langsung terhadap nama brand mencapai 2,06 juta pencarian.
Data tersebut menunjukkan bahwa konsumen Health & Beauty semakin aktif dalam mencari informasi, melakukan pertimbangan, membeli, sekaligus memberikan evaluasi setelah menggunakan produk.
Dari sisi kategori, Moisturizer menjadi produk dengan transaksi tertinggi, mencapai 50,62 juta transaksi, disusul Sunscreen sebanyak 33,55 juta transaksi dan Pelembab Wajah sebesar 24,80 juta transaksi.
Kategori lain yang mencatat volume transaksi tinggi antara lain Lip Cream 24,26 juta, Masker Wajah 22,25 juta, Serum Wajah 22,15 juta, Bedak Wajah 21,38 juta, Body Serum 20,05 juta, dan Body Lotion 19,93 juta transaksi.
Home & Living, Belanja Kebutuhan Rumah Makin Digital
Perubahan perilaku belanja juga terlihat pada sektor Home & Living. Riset terhadap 1.522 brand di 163 kategori produk mencatat total akumulasi transaksi sebesar 117,33 juta transaksi.
Tingginya aktivitas konsumen di sektor ini juga tercermin dari 47,62 juta ulasan, dengan average rating mencapai 4,86 dari 5.
Kategori seperti Wallpaper Dinding, deterjen dan sabun cuci piring, lampu LED, pengharum ruangan, hingga pompa galon elektrik menjadi sejumlah produk yang mendominasi transaksi.
Deterjen dan sabun cuci piring tercatat mencapai 6,05 juta transaksi, lampu LED 4,58 juta transaksi, pengharum ruangan 3,76 juta transaksi, pompa galon elektrik 3,72 juta transaksi, sementara kategori pewangi pakaian, pembersih lantai, hingga alat pel mencapai 2,26 juta transaksi.
Data tersebut memperlihatkan bahwa e-commerce semakin tidak hanya menjadi kanal untuk membeli produk gaya hidup, tetapi juga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Mom & Kids, Kepercayaan Jadi Penentu
Sementara itu, sektor Mom & Kids menunjukkan karakter konsumen yang berbeda. Faktor kepuasan dan kepercayaan menjadi semakin krusial karena produk yang dibeli berkaitan langsung dengan kebutuhan ibu dan anak.
Dari 1.278 brand di 141 kategori produk, sektor ini mencatat 122,86 juta transaksi dengan average rating tertinggi di antara tiga sektor yang diriset, yakni 4,9 dari 5. Total ulasan konsumen juga mencapai 41,97 juta review.
Produk yang mendominasi antara lain popok bayi, susu formula usia 1–3 tahun, tisu basah, pelancar ASI, baby travel gear, hingga sabun mandi bayi dan baby cologne. Susu formula usia 1–3 tahun mencatat 3,98 juta transaksi, tisu basah 3,64 juta, pelancar ASI 3,35 juta, baby travel gear 3,02 juta, serta sabun mandi bayi dan baby cologne 2,46 juta transaksi.
Menurut Tri, tingginya rating dan jumlah ulasan di sektor Mom & Kids memperlihatkan bahwa pengalaman konsumen menjadi aset penting dalam membangun keterpilihan brand.
“Ketika konsumen membeli produk yang berkaitan dengan kebutuhan anak, tingkat kepercayaan menjadi semakin tinggi. Karena itu, review, rating, kualitas produk, dan pengalaman konsumen menjadi bagian penting dari ekuitas sebuah brand,” jelasnya.
Enam Strategi Menangkan Persaingan E-Commerce
Melihat dinamika tersebut, Tri Raharjo menilai brand perlu mengubah pendekatan dalam memenangkan pasar digital. Kompetisi tidak cukup hanya mengandalkan promosi atau perang harga, tetapi harus dibangun melalui strategi yang terintegrasi dengan perilaku konsumen.
Pertama, diferensiasi dan inovasi produk berkelanjutan. Brand harus memiliki unique selling proposition (USP) yang kuat agar mampu tampil berbeda sekaligus relevan dengan perubahan kebutuhan konsumen.
Kedua, membangun strong digital brand equity. Awareness, reputasi, dan keterpilihan brand menjadi semakin penting, terutama ketika konsumen mulai menggunakan mesin pencarian berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menemukan dan mempertimbangkan produk.
Ketiga, mengoptimalkan tampilan dan user experience (UX) toko online. Informasi produk harus disajikan secara jelas, terstruktur, dan didukung visual yang menarik agar konsumen mendapatkan pengalaman berbelanja yang meyakinkan.
Keempat, memenangkan algoritma dan dominasi pencarian. Brand harus memastikan produk dan identitasnya mudah ditemukan dalam setiap tahapan perjalanan konsumen, mulai dari pencarian hingga keputusan pembelian.
Kelima, menetapkan harga dan promosi secara tepat sasaran. Kemudahan konsumen membandingkan harga secara langsung membuat strategi pricing dan promosi harus semakin terukur.
Keenam, menciptakan excellent customer experience. Pengalaman setelah transaksi tidak kalah penting dibanding proses pembelian. Layanan purna jual yang baik berpotensi mendorong review positif, pembelian ulang, hingga meningkatkan retensi konsumen.
“Brand yang memenangkan persaingan digital adalah brand yang mampu membaca data, memahami perilaku konsumen, kemudian menerjemahkannya menjadi strategi yang relevan. Data transaksi menunjukkan apa yang terjadi, tetapi pemahaman terhadap perilaku konsumen membantu brand menjawab mengapa hal itu terjadi dan apa yang harus dilakukan berikutnya,” pungkas Tri.


