Bukan Cuma Diskon, Ini yang Bikin Konsumen Indonesia Loyal pada Sebuah Brand
Penulis: Tri Raharjo, CEO TRAS N CO Indonesia dan Ketua Umum Asosiasi Brand Indonesia.
Hari ini seseorang membeli produk kita karena diskon 50 persen, besok ia bisa memilih kompetitor karena mendapatkan cashback yang lebih menarik.
INFOBRAND.ID - Diskon memang ampuh membuat orang membeli. Tetapi ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting: apakah konsumen akan kembali ketika diskonnya sudah tidak ada? Pertanyaan ini semakin relevan karena konsumen hari ini memiliki begitu banyak pilihan.
Dalam hitungan detik, konsumen dapat membandingkan harga, membaca ulasan, melihat rekomendasi di media sosial, kemudian berpindah ke brand lain. Hari ini seseorang membeli produk kita karena diskon 50 persen, besok ia bisa memilih kompetitor karena mendapatkan cashback yang lebih menarik. Jika satu-satunya alasan konsumen memilih sebuah brand adalah harga, hubungan tersebut akan mudah berakhir ketika ada penawaran yang lebih murah.
Karena itu, transaksi yang tinggi belum tentu menunjukkan loyalitas yang kuat. Saya melihat diskon sebagai pintu masuk yang efektif untuk membuat konsumen mencoba sebuah produk. Namun setelah transaksi pertama terjadi, ada faktor yang jauh lebih menentukan, yaitu pengalaman.
Konsumen akan menilai apakah kualitas produk sesuai dengan yang dijanjikan, apakah proses pembelian mudah, apakah produk tersedia ketika dibutuhkan, hingga bagaimana brand merespons ketika muncul masalah. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian membentuk persepsi. Ketika pengalaman yang baik terjadi secara konsisten, perlahan muncul kepercayaan.
Menurut saya, kepercayaan merupakan salah satu aset terbesar sebuah brand. Konsumen yang sudah percaya tidak perlu melakukan pertimbangan panjang setiap kali ingin membeli. Mereka sudah mengetahui kualitas dan pengalaman yang akan didapatkan. Pada titik tersebut, brand mulai masuk ke dalam kebiasaan konsumen.
Namun sebelum mendapatkan kepercayaan, sebuah brand harus lebih dahulu mendapatkan perhatian. Di era media sosial, perhatian bisa datang dengan sangat cepat. Satu konten TikTok, kolaborasi dengan influencer, atau kampanye kreatif dapat membuat sebuah produk mendadak viral dan dikenal banyak orang.
Masalahnya, ada perbedaan besar antara dikenal dan dipilih kembali. Viralitas dapat membuat konsumen penasaran dan mencoba, tetapi setelah tren selesai, mereka akan kembali menilai pengalaman yang didapatkan. Brand yang kuat bukan hanya brand yang ramai dibicarakan hari ini, tetapi brand yang masih dipilih ketika pembicaraan itu sudah selesai.
Karena itu, saya melihat perjalanan membangun loyalitas sebagai proses yang saling berkaitan: perhatian membuat konsumen mencoba, pengalaman membangun kepercayaan, dan konsistensi membuat mereka kembali. Dari sinilah pembelian yang awalnya bersifat coba-coba perlahan dapat berubah menjadi kebiasaan.
Loyalitas juga sangat bergantung pada kemampuan brand memahami konsumennya. Kebutuhan, kebiasaan, dan cara konsumen mengambil keputusan terus berubah. Memahami konsumen tidak cukup hanya berdasarkan usia, lokasi, atau daya beli, tetapi juga memahami apa yang mereka butuhkan dan pengalaman seperti apa yang mereka harapkan.
Di sinilah data konsumen seharusnya memiliki peran yang lebih besar. Data jangan hanya digunakan untuk mengirim lebih banyak promosi, tetapi untuk menciptakan pengalaman yang lebih relevan. Bisa jadi konsumen tidak membutuhkan diskon tambahan. Mereka justru lebih menghargai proses pembelian yang mudah, rekomendasi yang tepat, pelayanan yang responsif, atau proses komplain yang tidak berbelit-belit.
Hubungan menjadi semakin kuat ketika konsumen tidak hanya kembali membeli, tetapi mulai bercerita tentang sebuah brand kepada orang lain. Mereka memberikan ulasan, merekomendasikan produk kepada teman, membagikan pengalaman di media sosial, bahkan bergabung dalam komunitas. Pada tahap ini, konsumen tidak lagi sekadar menjadi pembeli, tetapi berkembang menjadi brand advocate.
Inilah mengapa komunitas menjadi penting dalam membangun loyalitas. Komunitas memberikan sesuatu yang sulit diberikan oleh potongan harga, yaitu rasa memiliki dan kedekatan emosional. Ketika konsumen merasa sebuah brand relevan dengan kebutuhan, aspirasi, atau gaya hidup mereka, hubungan yang tercipta menjadi lebih sulit digantikan hanya dengan penawaran harga yang lebih murah.
Apakah berarti brand harus berhenti memberikan diskon? Tentu tidak. Diskon tetap efektif untuk menarik pelanggan baru, mendorong trial, memperkenalkan produk, atau meningkatkan transaksi pada momentum tertentu. Namun diskon seharusnya menjadi pintu masuk, bukan alasan utama konsumen bertahan.
Brand yang kuat bukanlah brand yang selalu menawarkan harga paling murah, tetapi brand yang tetap dipilih ketika konsumen memiliki banyak pilihan. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi sekadar, “Bagaimana membuat konsumen membeli hari ini?”, melainkan “Apa alasan mereka memilih brand kita lagi besok, ketika tidak ada diskon?”
Jawaban atas pertanyaan itulah yang menurut saya membedakan antara brand yang sekadar mampu menciptakan transaksi dan brand yang benar-benar berhasil membangun loyalitas.


