NilaGiri Resto Hadirkan Kuliner Nusantara di Bangunan Bersejarah Riung Gunung Puncak
NilaGiri Resto hadir di Riung Gunung Puncak dengan kuliner Nusantara dan bangunan bersejarah yang menyimpan jejak perjalanan era Soekarno.
Dok.Foto NilaGiri Resto
INFOBRAND.ID, Bogor – Kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, tidak hanya dikenal karena hamparan perkebunan teh dan udara sejuknya. Di balik jalur wisata yang ramai dikunjungi, terdapat sejumlah tempat yang menyimpan cerita perjalanan sejarah. Salah satunya adalah Riung Gunung, lokasi yang kini kembali dibuka untuk masyarakat melalui kehadiran NilaGiri Resto.
NilaGiri Resto menawarkan pengalaman bersantap yang berbeda. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati hidangan Nusantara, tetapi juga merasakan suasana bangunan bersejarah yang telah menjadi bagian dari kawasan Puncak sejak dekade 1950-an.
Restaurant Manager NilaGiri, Asbidira Pratama Putra, yang akrab disapa Asbi, mengatakan pemilihan Riung Gunung sebagai lokasi NilaGiri tidak terlepas dari nilai historis dan ikonik kawasan tersebut.
“NilaGiri memilih tempat ini karena Riung Gunung merupakan salah satu lokasi yang ikonik di Puncak. Siapa pun yang datang ke Puncak pasti mengenal jembatan Riung Gunung,” ujar Asbi ketika di wawancarai Tim Redaksi INFOBRAND.ID.
Sejarah Riung Gunung dan Kaitannya dengan Bung Karno
Nama Riung Gunung selama bertahun-tahun tidak lepas dari cerita mengenai Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Namun, menurut Asbi, terdapat informasi yang perlu diluruskan mengenai status kepemilikan kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, lahan Riung Gunung merupakan lahan milik pribadi. Sementara pembangunan tempat tersebut dilakukan atas arahan Presiden Soekarno pada masa itu.
Pada periode tersebut, kawasan Puncak masih memiliki suasana yang asri dengan perkebunan teh yang mendominasi lingkungan sekitarnya. Riung Gunung kemudian dibangun dan pada era 1960-an pernah dikelola oleh Hotel Indonesia sebagai Riung Gunung Coffee House.
Lokasi ini juga memiliki hubungan dengan perjalanan Presiden Soekarno menuju Istana Cipanas. Menurut Asbi, Soekarno kerap singgah di Riung Gunung. Sejumlah tamu kenegaraan yang menginap di Hotel Indonesia juga pernah diajak berkunjung ke tempat tersebut untuk menikmati suasana Puncak.
“Lahan ini adalah lahan milik pribadi. Pada saat itu memang ada arahan dari Bapak Presiden Soekarno untuk membangun Riung Gunung. Tempat ini kemudian pernah dikelola Hotel Indonesia sebagai Riung Gunung Coffee House pada era 1960-an,” jelas Asbi.
Cerita tersebut menjadi salah satu alasan NilaGiri memilih Riung Gunung sebagai lokasi. Selain mempertahankan karakter historisnya, kehadiran restoran ini juga membuka kembali akses masyarakat ke tempat yang selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai area privat.
“Selama sekitar 20 sampai 30 tahun tempat ini lebih dikenal sebagai vila dan bersifat private. Sekarang NilaGiri membuka kembali tempat ini untuk masyarakat, sehingga mereka yang selama ini penasaran bisa datang dan merasakan langsung tempat yang memiliki cerita sejarah tersebut,” ungkap Asbi.
Restorasi Mempertahankan Karakter Bangunan
Salah satu daya tarik NilaGiri Resto adalah bangunan Riung Gunung yang tetap mempertahankan karakter aslinya.
Menurut Asbi, bangunan tersebut dibangun pada 1955 hingga 1957. Proses yang dilakukan terhadap bangunan bukan mengubah struktur utama, melainkan restorasi untuk mempertahankan karakter dan elemen bersejarahnya.
“Tempat ini dibangun pada 1955 sampai 1957 dan sampai sekarang masih berdiri kokoh. Kami tidak mengubah strukturnya. Justru kami melakukan restorasi agar karakter bangunannya tetap terjaga,” kata Asbi.
Struktur tembok hingga sejumlah bagian kayu di bangunan atas masih dipertahankan. Hal ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang datang langsung.
Bagi sebagian pengunjung, Riung Gunung bahkan bukan sekadar tempat baru untuk bersantap. Lokasi ini menjadi ruang untuk kembali mengingat pengalaman puluhan tahun lalu.
Asbi menceritakan, salah satu pengunjung yang datang bahkan telah berusia 92 tahun. Ia mengaku pernah berkunjung ke Riung Gunung pada masa lalu dan masih mengingat lokasi tempatnya duduk.
“Banyak yang datang karena penasaran. Ada tamu yang usianya 92 tahun, beliau mengatakan pernah datang ke sini dulu dan masih ingat tempat duduknya. Bahkan beliau membawa anak-anaknya yang sekarang sudah berusia 50 sampai 60 tahun,” tutur Asbi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Riung Gunung memiliki memori tersendiri bagi sebagian masyarakat yang pernah mengunjunginya pada masa lalu.
-1789369424.png)
Jembatan Riung Gunung Jadi Daya Tarik Pengunjung
Selain bangunan utama, jembatan Riung Gunung menjadi salah satu bagian yang paling banyak menarik perhatian pengunjung. Tidak sedikit yang menjadikan jembatan tersebut sebagai lokasi untuk berfoto ketika tiba di kawasan tersebut.
Posisi jembatan yang kini berada di tengah jalur juga sering menimbulkan pertanyaan. Asbi menjelaskan, posisi tersebut berkaitan dengan perubahan fungsi dan penggunaan jalan dari masa ke masa.
Menurutnya, pada masa lalu jalur yang kini berada di bagian atas merupakan jalur perjalanan, sementara jalan utama berada di bawah jembatan. Perubahan penggunaan jalan kemudian membuat posisi jembatan terlihat berada di tengah jalur yang digunakan saat ini.
Selain jembatan, nilai sejarah Riung Gunung juga diperkuat dengan keberadaan prasasti yang berkaitan dengan Presiden Soekarno.
Menurut Asbi, prasasti tersebut menjelaskan bahwa pembangunan bangunan dilakukan atas arahan Soekarno dan mencantumkan nama arsitek Soedarsono.
“Nilai sejarah yang melekat di sini salah satunya adalah prasasti Bung Karno yang menjelaskan bahwa bangunan ini dibuat atas arahan beliau. Di sana juga disebutkan arsiteknya, Soedarsono. Itu menjadi nilai tambah dan bagian sejarah yang tidak akan hilang dari tempat ini,” ujar Asbi.
NilaGiri Membawa Konsep Kuliner Nusantara
Tidak hanya mengandalkan sejarah bangunan, NilaGiri Resto juga membawa konsep kuliner Nusantara.
Nama “NilaGiri” sendiri tidak merujuk pada ikan nila. Menurut Asbi, nama tersebut berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti eucalyptus.
Pemilihan nama tersebut juga memiliki keterkaitan dengan identitas Bobobox yang menaungi NilaGiri.
Dari sisi kuliner, NilaGiri mengedepankan makanan Nusantara dengan mengambil inspirasi dari kekayaan kuliner Indonesia. Konsep tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sosok Soekarno yang dikenal memiliki perhatian terhadap kuliner Nusantara.
Salah satu referensi yang digunakan adalah Mustika Rasa, buku resep masakan Indonesia yang diterbitkan pada era pemerintahan Soekarno.
“Konsep NilaGiri adalah makanan Nusantara. Kami mengedepankan kekayaan kuliner Nusantara, yang juga memiliki keterkaitan dengan Pak Soekarno. Karena itu, kami mengambil inspirasi dari menu-menu yang disukai beliau dan referensinya dari buku Mustika Rasa,” jelas Asbi.
Untuk harga, menu di NilaGiri Resto berada pada kisaran Rp80.000 hingga Rp350.000.
Restoran ini beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, baik pada weekday maupun weekend. Pengunjung tidak diwajibkan melakukan reservasi, tetapi reservasi disarankan.

Salah Satu Menu Favorit Iga Maranggi/Foto :Alvin Pratama
Membuka Kembali Riung Gunung untuk Masyarakat
Kehadiran NilaGiri Resto pada akhirnya bukan hanya menghadirkan tempat makan baru di kawasan Puncak. Restoran ini juga membuka kembali sebuah ruang yang selama puluhan tahun lebih banyak dikenal secara terbatas oleh masyarakat.
Bagi generasi yang lebih tua, Riung Gunung dapat menjadi tempat untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu. Sementara bagi generasi yang lebih muda, lokasi ini memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bangunan yang menyimpan cerita perjalanan kawasan Puncak.
Ke depan, NilaGiri juga membuka kemungkinan untuk mengembangkan konsep serupa di lokasi lain, termasuk memanfaatkan bangunan yang memiliki nilai sejarah.
“Kemungkinannya pasti selalu ada. Kami akan melihat kesempatan dan pasarnya seperti apa. Karena pada akhirnya bisnis tetap harus memperhitungkan apakah sebuah lokasi dan konsep tersebut sesuai dengan kebutuhan pasar,” pungkas Asbi.
Dengan mempertahankan karakter bangunan, menghadirkan kuliner Nusantara, dan membuka akses bagi masyarakat, NilaGiri Resto mencoba mempertemukan pengalaman bersantap dengan cerita masa lalu Riung Gunung.
Bagi pengunjung Puncak, tempat ini menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati makanan: melihat kembali bangunan bersejarah, mengenal cerita di balik jembatan Riung Gunung, sekaligus menikmati suasana kawasan yang sejak dulu menjadi salah satu tujuan perjalanan di Puncak.


