Pelemahan Rupiah Tekan Laba Indofood
Pelemahan rupiah menekan laba bersih ICBP dan Indofood pada semester I 2026, meski penjualan dan laba usaha tetap tumbuh.
Pelemahan rupiah meningkatkan rugi selisih kurs ICBP dan Indofood pada semester I 2026.
INFOBRAND.ID, Jakarta – Pelemahan rupiah berdampak pada kinerja laba bersih dua emiten konsumer Grup Salim, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), sepanjang semester I 2026. Keduanya mencatat penurunan laba bersih akibat meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pembiayaan dan pendanaan.
Meski laba bersih menurun, ICBP masih membukukan pertumbuhan penjualan bersih konsolidasi sebesar 11 persen menjadi Rp41,86 triliun pada semester pertama 2026.
Sejalan dengan kenaikan penjualan, laba usaha perseroan tumbuh 8 persen menjadi Rp9,15 triliun. Margin laba usaha ICBP tercatat sebesar 21,9 persen.
Sementara itu, core profit yang menjadi salah satu indikator kinerja operasional naik sekitar 1 persen menjadi Rp5,40 triliun.
Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 33 persen menjadi Rp3,70 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pembiayaan seiring pelemahan rupiah.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP, Anthoni Salim, mengatakan perusahaan akan tetap berhati-hati dalam menghadapi dinamika pasar. Perseroan juga akan menjaga efisiensi biaya serta menyesuaikan tingkat produksi dengan kebutuhan pasar.
"ICBP membukukan kinerja yang positif di paruh pertama tahun 2026 meski dihadapkan pada situasi pasar yang semakin dinamis. Kami akan terus menyelaraskan produksi dengan kebutuhan pasar serta mengelola biaya secara efektif dan efisien untuk menjaga profitabilitas dan arus kas," ujar Anthoni.
Tekanan akibat pelemahan rupiah juga tercermin dalam laporan keuangan perusahaan induk ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, pada periode yang sama.
Indofood mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp65,53 triliun pada semester I 2026, meningkat 9 persen dibandingkan periode sebelumnya. Laba usaha tumbuh lebih tinggi sebesar 14 persen menjadi Rp13,29 triliun.
Core profit Indofood juga meningkat 7 persen menjadi Rp6,18 triliun. Adapun margin laba usaha perseroan tercatat sebesar 20,3 persen.
Di tengah pertumbuhan penjualan dan laba usaha tersebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 19 persen menjadi Rp4,72 triliun.
Penurunan laba bersih Indofood dipengaruhi oleh kenaikan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari aktivitas pendanaan. Kondisi tersebut berlangsung seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah pada semester pertama 2026.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood Sukses Makmur, Anthoni Salim, menyampaikan bahwa perusahaan tetap berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan menjaga keseimbangan antara pangsa pasar, profitabilitas, dan kondisi neraca.
"Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama tahun 2026 ini. Kami tetap fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat," ujar Anthoni.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang menekan laba bersih ICBP dan Indofood pada semester I 2026. Namun, kedua perusahaan tetap mencatat pertumbuhan penjualan, laba usaha, dan core profit selama periode tersebut.

