Kamis, 20 Agustus 2026

Follow us:

infobrand

Ketika Parfum Menjadi Bahasa Identitas Generasi Muda

Penulis: Agus W. Soehadi Professor of Marketing, Universitas Prasetiya Mulya

Ketika Parfum Menjadi Bahasa Identitas Generasi Muda Prof. Agus W. Soehadi, Ph.D., Marketing Professor Universitas Prasetiya Mulya.

INFOBRAND.ID - Dahulu, parfum identik dengan kemewahan, kedewasaan, dan acara khusus. Orang membelinya ketika sudah bekerja, memiliki penghasilan, atau merasa perlu tampil lebih mapan. Kini, pemandangan itu berubah. Remaja mulai mengenal karakter aroma, membandingkan daya tahannya, mengikuti ulasan kreator, bahkan memiliki beberapa parfum untuk suasana yang berbeda.

Perubahan ini bukan sekadar memperlihatkan bahwa pasar parfum semakin muda. Ada pergeseran yang lebih dalam: parfum telah menjadi bahasa identitas generasi muda. Mykonos menjadi salah satu brand lokal yang menarik untuk membaca perubahan tersebut. Popularitasnya tidak cukup dijelaskan oleh harga, kemasan, banyaknya varian, atau aktivitas media sosial. Mykonos tumbuh karena mampu masuk ke dalam percakapan anak muda tentang siapa diri mereka dan bagaimana mereka ingin dilihat. Di balik aroma yang dipilih, sesungguhnya ada identitas yang sedang dicoba.

Aroma dan diri yang ingin diwujudkan

Konsumen muda belum tentu memahami top notes, middle notes, dan base notes. Namun, mereka dapat memahami gambaran diri yang dilekatkan pada sebuah aroma: segar, berani, romantis, elegan, atau misterius.

Ketika seorang remaja memilih aroma yang kuat, mungkin ia sedang mencoba menampilkan keberanian yang belum sepenuhnya dimilikinya. Ketika memilih aroma yang lembut dan elegan, ia mungkin sedang membayangkan dirinya yang lebih dewasa. Parfum akhirnya bukan hanya sesuatu yang dikenakan pada tubuh. Ia menjadi jembatan antara diri hari ini dan diri yang ingin diwujudkan. Itulah sebabnya nama produk, kemasan, narasi aroma, ulasan kreator, dan pengalaman membuka produk menjadi penting. Semua itu bekerja sebagai simbol yang membantu konsumen menerjemahkan aroma menjadi karakter.

Brand yang kuat tidak hanya mengatakan, “Parfum ini memiliki aroma tertentu.” Ia seolah berbisik, “Inilah perasaan dan gambaran diri yang dapat Anda tampilkan ketika mengenakannya.” Di titik itulah produk mulai berubah menjadi meaning.

Mykonos dan demokratisasi identitas

Selama bertahun-tahun, parfum premium menjadi simbol status yang hanya dapat dijangkau kelompok tertentu. Brand lokal seperti Mykonos mengubah batas itu. Tampilan aspiratif, ragam pilihan, percakapan digital, dan akses yang semakin luas membuat pengalaman menggunakan parfum terasa lebih dekat dengan generasi muda. Yang didemokratisasi bukan hanya produk, tetapi juga identitas yang menyertainya. Konsumen tidak perlu menunggu mapan untuk merasakan kepercayaan diri, kemewahan, atau kedewasaan yang selama ini diasosiasikan dengan parfum.

Mykonos juga masuk ke ruang budaya yang dekat dengan anak muda. Kolaborasi dengan komunitas dan dunia e-sports, misalnya, bukan hanya cara memperoleh perhatian. Brand sedang hadir di tempat anak muda membangun pertemanan, mencari pengakuan, dan membentuk identitas sosial.

Kolaborasi menjadi bermakna ketika tidak berhenti pada penempelan dua logo. Brand perlu menyerap energi, simbol, dan nilai komunitas yang dimasukinya. Dengan demikian, parfum bukan lagi sekadar produk yang dipakai, tetapi dapat menjadi tanda bahwa seseorang merasa menjadi bagian dari dunia tertentu.

Dari target pasar menuju target meaning

Pemasaran tradisional terbiasa menentukan target berdasarkan umur, jenis kelamin, pendapatan, dan lokasi. Pendekatan tersebut masih berguna, tetapi tidak lagi cukup. Dua orang dengan usia dan kemampuan membeli yang sama dapat memilih parfum untuk alasan yang berbeda.

Yang satu ingin diterima kelompok pertemanan. Yang lain ingin terlihat lebih dewasa. Sebagian ingin mengikuti sesuatu yang sedang viral, sedangkan sebagian lainnya mencari aroma yang dapat menjadi ciri khas dirinya. Karena itu, brand masa depan tidak cukup hanya memahami siapa yang menjadi targetnya. Brand harus memahami makna apa yang sedang dicari target tersebut.

Konsumen muda Mykonos lebih tepat dilihat sebagai young fragrance explorers. Mereka sedang bereksperimen dengan aroma, suasana hati, identitas, dan penerimaan sosial. Tugas brand bukan sekadar menjual parfum yang terjangkau, melainkan menemani perjalanan mereka menemukan ekspresi diri.

Perjalanan itu dapat dimulai dari viral dan discovery set, lalu berkembang menuju pemilihan aroma berdasarkan momen hingga penemuan signature scent. Portofolio produk dengan demikian bukan hanya kumpulan varian, melainkan peta perjalanan identitas konsumen.

Ketika perhatian belum menjadi makna

Media sosial memungkinkan brand memperoleh perhatian dengan sangat cepat. TikTok, unboxing, ulasan kreator, dan kolaborasi dapat mendorong rasa penasaran sekaligus pembelian pertama. Namun, perhatian tidak otomatis berubah menjadi makna.

Konsumen dapat mengenal nama produk tanpa memahami apa yang diperjuangkan brand. Mereka membeli karena sedang ramai, lalu berpindah ketika hadir brand lain yang lebih ramai. Dalam kondisi itu, brand memenangkan attention, tetapi belum mendapatkan tempat di dalam kehidupan konsumennya.

Inilah tantangan Mykonos. Banyaknya varian dapat memperluas pasar, tetapi juga berpotensi mengaburkan identitas. Setiap produk baru perlu terhubung oleh satu gagasan mengenai peran Mykonos dalam kehidupan konsumen. Meaning lahir ketika produk, nama, kemasan, komunikasi, kolaborasi, pengalaman ritel, dan perilaku brand menyampaikan cerita yang saling menguatkan. Brand boleh bergerak cepat mengikuti zaman, tetapi setiap perubahan harus terasa sebagai babak baru dari cerita yang sama.

Tumbuh bersama konsumen

Merekrut konsumen muda adalah peluang sekaligus ujian. Mereka memiliki kekuatan perhatian, kemampuan menciptakan percakapan, dan potensi hubungan jangka panjang. Namun, identitas mereka terus berubah. Brand yang terasa relevan hari ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun lagi.

Mykonos karena itu memerlukan tangga makna. Pada tahap awal, brand menawarkan kegembiraan bereksplorasi, kepercayaan diri, dan penerimaan sosial. Ketika konsumen bertumbuh, makna tersebut perlu berkembang menuju kematangan selera, autentisitas personal, dan keberanian memiliki karakter sendiri.

Jalur itu perlu tampak dalam produk dan pengalaman. Vial menjadi pintu masuk, discovery set menjadi sarana eksplorasi, ukuran penuh menjadi pilihan personal, sedangkan koleksi premium atau personalisasi menjadi ekspresi yang lebih matang. Dengan cara ini, konsumen tidak harus meninggalkan Mykonos untuk merasa dewasa. Mykonos justru bertumbuh bersama mereka.

Menjangkau generasi muda juga membawa tanggung jawab. Brand tidak seharusnya mengeksploitasi rasa tidak aman atau ketakutan tertinggal. Brand yang baik tidak berkata, “Belilah agar kamu dianggap keren.” Ia mengajak, “Temukan aroma yang paling mampu mengekspresikan dirimu.”

Pelajaran terbesar dari Mykonos bukan sekadar bahwa konsumen parfum kini semakin muda. Mykonos memperlihatkan bahwa pembentukan brand meaning juga dimulai semakin dini. Maka, pertanyaan terpentingnya bukan lagi, “Bagaimana membuat anak muda membeli?” Pertanyaan yang lebih strategis adalah, “Identitas seperti apa yang kita bantu mereka bangun, dan apakah makna itu tetap relevan ketika mereka tumbuh dewasa?”

Pada akhirnya, parfum akan menguap dan aromanya akan memudar. Namun, brand yang hadir dalam perjalanan seseorang menemukan dirinya akan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih lama: makna.(***)


Tag: -

Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV