Jum'at, 15 Mei 2026

Follow us:

infobrand

AI Economy dan Masa Depan Inovasi Bisnis: Saatnya Manusia Berkolaborasi dengan AI

AI Economy dan Masa Depan Inovasi Bisnis: Saatnya Manusia Berkolaborasi dengan AI Sesi Dr. Wahyu Tri Setyobudi, Pengajar dan Peneliti Global Business Marketing dari BINUS Business School & Founder Inspark Indonesia, dalam seminar The 38th INFOBRAND FORUM, Rabu (13/5/2026).

INFOBRAND.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar tren teknologi. AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, memengaruhi cara manusia bekerja, berpikir, hingga mengambil keputusan bisnis. 

Wahyu Tri Setyobudi, Pengajar dan Peneliti Global Business Marketing dari BINUS Business School & Founder Inspark Indonesia, dalam seminar The 38th INFOBRAND FORUM, Rabu (13/5/2026), dengan tema “AI-powered Innovation: For Faster, Cheaper, and Impactful Product Innovation, mengungkap bagaimana perusahaan dan individu harus mampu beradaptasi menghadapi era “AI Economy”.

Pembahasan seminar dimulai dari konsep digital Darwinism, yaitu gagasan bahwa hanya pihak yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang akan bertahan. Konsep ini terinspirasi dari teori Charles Darwin tentang survival of the fittest. Dalam konteks bisnis modern, perusahaan yang mampu memanfaatkan teknologi AI akan lebih relevan dan kompetitif dibanding mereka yang lambat bertransformasi.

IKLAN INFOBRAND.ID

inject article ibos 1 - 2026

Menurut Dr. Wahyu, perkembangan AI tidak mungkin dihentikan. Karena itu, pilihan terbaik bukan menolak teknologi, melainkan memanfaatkannya untuk mendukung produktivitas dan pengembangan bisnis. Bahkan, muncul pandangan bahwa AI bukan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya.

Fenomena ini terlihat jelas pada banyak brand baru yang berkembang sangat cepat hanya dalam waktu dua hingga tiga tahun. Brand-brand tersebut sejak awal sudah memiliki DNA digital dan terbiasa memanfaatkan teknologi. Sementara perusahaan besar yang sudah lama berdiri sering kali menghadapi tantangan transformasi karena sistem yang lebih kompleks dan kurang lincah.

Dr. Wahyu mengibaratkan perusahaan besar seperti kapal tanker yang sulit berbelok cepat, sedangkan startup atau brand baru lebih seperti kapal kecil yang gesit dan mudah beradaptasi. Karena itu, kemampuan memanfaatkan AI kini menjadi bagian penting dari daya saing bisnis modern.

IKLAN INFOBRAND.ID

Inject Article IBOS 2 -2026

Tanpa disadari, manusia saat ini sudah sangat dipengaruhi AI. Contohnya terlihat dari penggunaan aplikasi navigasi seperti Google Maps atau sistem algoritma pada layanan transportasi online. “Banyak orang kini lebih percaya rekomendasi AI dibanding intuisi pribadi saat memilih rute perjalanan atau mengambil keputusan sederhana,” ungkap Dr. Wahyu. 

AI juga berkembang jauh melampaui imajinasi manusia. Dalam seminar tersebut disampaikan contoh penggunaan AI di bidang kesehatan. Sebuah universitas di Beijing mengumpulkan data CT scan selama 10 tahun untuk melatih sistem AI mendeteksi tumor otak. Hasilnya, AI mampu memberikan tingkat akurasi diagnosis lebih tinggi dibanding dokter spesialis dalam waktu yang jauh lebih cepat.

Di bidang kreatif, perusahaan seperti KFC bahkan mulai menggunakan AI untuk membantu proses periklanan, mulai dari pembuatan konsep, storyboard, animasi, hingga media planning. Contoh lain adalah humanoid robot bernama Sophia yang mampu membaca micro expression manusia dan merespons emosi lawan bicara. Robot ini bahkan menjadi robot pertama yang memperoleh kewarganegaraan resmi di Uni Emirat Arab.

IKLAN INFOBRAND.ID

Inject Article IBOS 3 - 2026

“Artinya, AI kini mulai masuk ke hampir seluruh rantai proses industri kreatif,” jelas Dr. Wahyu.

Meski AI terlihat sangat canggih, pemateri menegaskan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan. AI dinilai sangat kuat dalam mengenali pola dan mengolah data, tetapi belum mampu benar-benar memahami makna seperti manusia. AI bekerja berdasarkan pola bahasa dan probabilitas kata, bukan pemahaman mendalam. Karena itu, AI belum bisa menggantikan intuisi, empati, serta kemampuan manusia dalam memberi makna terhadap suatu fenomena.

Dalam praktik bisnis, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu atau digital assistant, bukan pengganti manusia sepenuhnya. Pengguna tetap harus melakukan evaluasi dan validasi terhadap hasil yang diberikan AI.

Dr. Wahyu juga mengingatkan bahwa kualitas jawaban AI sangat bergantung pada kualitas pengguna. Jika pengguna memiliki wawasan dan pengalaman yang baik, maka hasil yang diperoleh dari AI juga akan lebih berkualitas.

Salah satu manfaat terbesar AI adalah mempercepat proses pengembangan produk dan inovasi bisnis. Jika sebelumnya perusahaan membutuhkan banyak orang dan waktu panjang untuk mencari ide produk baru, kini proses tersebut bisa dipersingkat hanya dengan bantuan AI.

“AI dapat membantu melakukan environmental scanning atau membaca tren pasar, analisis pola penjualan, pengembangan ide kreatif, pembuatan prototype produk, dan penyusunan strategi pemasaran,” jelas Dr. Wahyu. 

Namun, hasil AI tetap perlu dikaji manusia karena AI hanya memberikan usulan berdasarkan data yang sudah ada sebelumnya. Dr. Wahyu menjelaskan bahwa inti pengembangan produk sebenarnya adalah menciptakan value atau nilai bagi konsumen. Nilai tersebut berasal dari perbandingan antara manfaat yang diterima pelanggan dengan pengorbanan yang mereka keluarkan. Dimana nilai produk dapat dibagi menjadi empat aspek; Functional value, Emotional value, Social value, dan Economic value. 

Karena itu, inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru. Inovasi bisa berupa peningkatan layanan, pengalaman emosional pelanggan, sistem pembayaran, hingga membangun komunitas pelanggan.

Dalam era AI, kemampuan membuat perintah atau prompt menjadi keterampilan penting. Pemateri menyebutnya sebagai Prompt Intelligence. Salah satu formula yang diperkenalkan dalam seminar adalah metode “CRAFT”, yaitu; C – Context: menjelaskan konteks bisnis atau produk, R – Role: menentukan peran AI, A – Assignment: memberi tugas spesifik, F – Format: menentukan bentuk output, dan T – Threshold: memberi batasan atau constraint.  

Dengan formula tersebut, pengguna bisa mendapatkan hasil AI yang lebih relevan dan berkualitas. Sebagai contoh, pemateri memperlihatkan bagaimana AI dapat membuat konsep desain kemasan minuman hanya dalam beberapa menit dengan hasil yang sangat detail, mulai dari visual produk, filosofi desain, hingga spesifikasi teknis.

Menurutnya, AI memungkinkan seseorang bekerja lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien. Kini, banyak proses yang sebelumnya membutuhkan tim besar dapat dilakukan hanya oleh satu orang bersama “digital assistant”-nya.

Pada akhirnya, seminar tersebut menegaskan bahwa masa depan bukan tentang manusia melawan AI, melainkan manusia yang mampu berkolaborasi dengan AI. AI memang mampu mempercepat pekerjaan dan membantu pengambilan keputusan, tetapi kreativitas sejati, intuisi, empati, dan kemampuan memberi makna tetap menjadi kekuatan utama manusia.

“Di era AI Economy, perusahaan dan individu yang mampu memadukan kecerdasan manusia dengan kemampuan AI akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan memenangkan persaingan bisnis,” tutup Dr. Wahyu. 


Tag: -

Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV