Nissan Pangkas Target Penjualan Meski Laba Melampaui Ekspektasi
Nissan mencatat laba di atas ekspektasi, tetapi memangkas target penjualan global 2026 menjadi 3,15 juta unit akibat pelemahan pasar China.
Nissan memangkas target penjualan global meski membukukan laba operasional di atas ekspektasi pasar.
INFOBRAND.ID, Jakarta – Nissan Motor mencatat laba operasional kuartal pertama tahun fiskal 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Namun, produsen otomotif asal Jepang tersebut tetap memangkas target penjualan globalnya karena menghadapi pelemahan permintaan, terutama di pasar China.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Senin (3/8/2026) dan dikutip dari Reuters, Nissan membukukan laba operasional sebesar 77,9 miliar yen atau sekitar US$497 juta untuk periode April hingga Juni 2026.
Perolehan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis sebesar 7,5 miliar yen. Kinerja ini juga berbalik dari kerugian operasional senilai 79,1 miliar yen yang dicatatkan Nissan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba operasional didukung oleh langkah efisiensi biaya dan pelemahan nilai tukar yen. Kedua faktor tersebut membantu perusahaan mengimbangi tekanan yang berasal dari penurunan volume penjualan dan kenaikan harga bahan baku.
Chief Executive Officer Nissan Ivan Espinosa menyampaikan bahwa industri otomotif global masih menghadapi tantangan, khususnya di China dan kawasan Timur Tengah. Di tengah kondisi tersebut, Nissan mulai mencatat pertumbuhan penjualan di sejumlah pasar utama.
"Kami melihat tanda-tanda kemajuan pada kuartal ini, termasuk pertumbuhan penjualan di Amerika Serikat dan Jepang," kata Espinosa.
Sejak menjabat sebagai CEO pada April 2025, Espinosa menjalankan sejumlah langkah restrukturisasi untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Kebijakan tersebut mencakup pengurangan jumlah karyawan, kapasitas produksi, serta lini kendaraan. Langkah ini ditujukan untuk mengembalikan profitabilitas Nissan secara berkelanjutan.
Meski laba Nissan melampaui perkiraan, perusahaan masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku. Perang Iran mendorong peningkatan harga sejumlah komoditas, termasuk aluminium dan tembaga, yang banyak digunakan dalam produksi kendaraan.
Operasional perusahaan juga terdampak gempa bumi yang terjadi pada pekan lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan Nissan menghentikan sementara kegiatan produksi di dua pabrik yang berlokasi di Pulau Kyushu, Jepang.
Penghentian produksi itu diperkirakan mengurangi volume produksi sekitar 5.000 unit kendaraan. Selain gangguan produksi, Nissan menghadapi persaingan dari produsen kendaraan listrik asal China, terutama di pasar Eropa dan Asia Tenggara.
Perubahan permintaan konsumen terhadap kendaraan energi baru atau new energy vehicles juga memengaruhi proyeksi penjualan Nissan. Kondisi tersebut terlihat di China, yang menjadi salah satu pasar penting bagi industri otomotif global.
Nissan memangkas proyeksi penjualan global untuk tahun fiskal 2026 sebesar 5% menjadi 3,15 juta unit kendaraan. Meski target penjualan diturunkan, perusahaan tetap mempertahankan target laba operasional tahunan sebesar 200 miliar yen.
Revisi target penjualan global tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya pasar China. Nissan menurunkan proyeksi penjualannya di negara tersebut sebesar 18% menjadi 580.000 unit kendaraan.
Perusahaan menilai perlambatan ekonomi dan percepatan peralihan konsumen ke kendaraan energi baru menjadi faktor utama yang menekan permintaan. Kenaikan harga bahan bakar setelah pecahnya perang Iran juga turut mempercepat pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan listrik dan hibrida.
Dengan kondisi tersebut, Nissan melanjutkan program efisiensi dan restrukturisasi sambil mempertahankan target laba operasional. Pada saat yang sama, perusahaan menyesuaikan target penjualan Nissan dengan perkembangan permintaan di pasar global, khususnya China.

