Rabu, 16 September 2026

Follow us:

infobrand

Dekkson Menangkan Konsumen dengan Edukasi, dari Product Knowledge hingga Trust

Dekkson Menangkan Konsumen dengan Edukasi, dari Product Knowledge hingga Trust Lucky Nugroho, Direktur Brand Dekkson (tengah) dalam launching buku Customer Behavior in The Digital Era.

INFOBRAND.ID — Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin knowledgeable, kemampuan sebuah brand dalam memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan. Bagi Dekkson, pengetahuan konsumen bukan sekadar bagian dari proses pembelian, tetapi menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan, menghadirkan pengalaman, sekaligus memperkuat posisi brand di pasar.

Strategi tersebut dijalankan PT Fajar Lestari Sejati melalui Dekkson, brand penyedia hardware dan aksesori pintu serta jendela yang telah hadir di Indonesia sejak 1994. Selama lebih dari tiga dekade, Dekkson berkembang dari produk kuncian mekanis (mechanical hardware) menuju teknologi kuncian elektronik (electronic lock), smart home, hingga produk saniter dan aksesori furniture premium.

Strategi Dekkson memahami perilaku konsumen tersebut menjadi salah satu study case dalam buku Customer Behavior in The Digital Era, Teori & Studi Kasus Perusahaan-Perusahaan Sukses, khususnya Bab VII tentang Pengetahuan Konsumen. Bab ini mengulas arti pengetahuan konsumen, pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, hubungan pengetahuan pembelian dengan perilaku pembelian online, serta pengetahuan pemakaian atau penggunaan produk.

Bagi Dekkson, tingkat pengetahuan konsumen memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian. Hal ini tidak terlepas dari karakter produk Dekkson yang berada di kategori architectural hardware dan digital lock, yang membutuhkan pemahaman terhadap aspek teknis seperti beban material, mekanisme penguncian, hingga presisi instalasi.

Konsumen dengan tingkat pengetahuan tinggi, seperti arsitek, kontraktor, dan profesional, cenderung menjadikan spesifikasi teknis, daya tahan material, dan standar keselamatan sebagai pertimbangan utama. Pengetahuan tersebut membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat karena mereka telah mengetahui kriteria produk yang sesuai dengan kebutuhan proyek.

Sebaliknya, konsumen pemula maupun retail membutuhkan pendekatan berbeda. Keputusan pembelian mereka lebih banyak dipengaruhi reputasi brand, persepsi kualitas, serta jaminan purna jual. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting sebelum konsumen merasa yakin terhadap produk yang akan dipilih.

Hadapi Konsumen Digital dengan Informasi yang Transparan

Perubahan perilaku konsumen di era digital membuat proses pembelian semakin kompleks. Konsumen kini dapat mencari, membandingkan spesifikasi, membaca ulasan, hingga mengevaluasi berbagai alternatif produk sebelum berinteraksi dengan tenaga penjualan.

Dekkson merespons perubahan tersebut melalui pendekatan omnichannel. Informasi produk disediakan secara transparan melalui katalog digital dan berbagai materi produk yang akurat sehingga konsumen memiliki referensi yang dapat diverifikasi ketika melakukan pencarian dan perbandingan secara online.

Namun, Dekkson tidak berhenti pada penyediaan informasi digital. Konsumen juga diberikan akses konsultasi melalui media sosial, hotline, pesan instan, sales, hingga showroom. Dengan demikian, hasil pencarian konsumen di ranah digital dapat dikonfirmasi melalui interaksi langsung dengan pihak Dekkson.

Lucky Nugroho, Direktur Brand Dekkson, menegaskan bahwa transformasi digital tidak mengubah komitmen Dekkson terhadap kualitas dan kepercayaan konsumen.

“Dekkson terus mempertahankan kepercayaan (trust) dan kualitas produk di tengah transformasi digital. Kami melihat perubahan perilaku konsumen sebagai bagian dari proses yang harus dipahami dan dilayani dengan baik.”

Menurutnya, perjalanan Dekkson selama lebih dari 30 tahun tidak hanya dibangun melalui inovasi produk, tetapi juga kemampuan menghadirkan akses dan pengalaman yang relevan bagi konsumennya.

Saat ini Dekkson telah hadir di 22 provinsi, dengan showroom yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat distribusi sekaligus mendekatkan akses edukasi produk kepada konsumen di berbagai daerah.

Bukan Sekadar Menjual Produk

Strategi edukasi Dekkson juga dilakukan dengan menyederhanakan informasi teknis berdasarkan karakter konsumennya. Untuk pengguna akhir, misalnya, Dekkson memanfaatkan media sosial untuk menghadirkan konten visual yang praktis serta panduan penggunaan. Sementara bagi arsitek, kontraktor, dan praktisi proyek, informasi lebih detail diberikan melalui data sheet dan spesifikasi teknis.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui experiential marketing. Dekkson menggelar workshop, seminar, dan exhibition agar konsumen tidak hanya memperoleh informasi melalui teks atau layar digital, tetapi dapat melihat, mencoba, dan memahami langsung cara kerja produk.

Konsep serupa diterapkan melalui showroom berskala 1:1. Arsitek, kontraktor, maupun konsumen akhir dapat melakukan touch and feel terhadap produk sebelum mengambil keputusan pembelian.

Strategi ini sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin kritis. Bagi Dekkson, konsumen yang semakin knowledgeable bukan ancaman, melainkan peluang untuk menunjukkan keunggulan produk secara lebih objektif.

Konsumen yang memiliki pengetahuan lebih baik akan mampu membedakan produk yang hanya menawarkan harga murah dengan produk yang memiliki kualitas material, presisi, ketahanan, dan aspek keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi tersebut justru memberikan ruang lebih besar bagi Dekkson untuk menunjukkan nilai produknya.

Edukasi Menjadi Senjata Marketing Dekkson

Di balik strategi tersebut terdapat satu prinsip yang menjadi insight penting dari studi kasus Dekkson, yakni edukasi merupakan bentuk marketing terbaik (education-driven marketing).

Di era digital, brand tidak cukup hanya menjual produk atau mengomunikasikan fitur. Brand dituntut hadir sebagai mitra konsultatif yang membantu konsumen memahami kebutuhan, pilihan produk, cara pembelian, hingga penggunaan produk secara tepat.

Dekkson menerjemahkan prinsip tersebut melalui kombinasi kanal digital dan interaksi fisik. Konsumen dapat mencari informasi secara mandiri melalui kanal digital, kemudian mendapatkan validasi dan konsultasi melalui sales, showroom, maupun hotline.

“Memfasilitasi proses pembelajaran konsumen, baik pemula maupun profesional, melalui kombinasi kanal digital yang cepat dan interaksi fisik yang dapat dipercaya akan membangun loyalitas serta kredibilitas jangka panjang,” demikian prinsip yang tercermin dalam strategi Dekkson.

Untuk memperkuat kepercayaan tersebut, Dekkson juga membangun laboratorium pengujian internal serta melakukan sertifikasi standar nasional (SNI) maupun internasional (EN Standard). Langkah ini dilakukan untuk memastikan produk memiliki tingkat ketahanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dengan strategi tersebut, Dekkson tidak hanya berupaya menjadi penyedia hardware dan aksesori pintu serta jendela. Lebih dari itu, Dekkson membangun ekosistem yang memungkinkan konsumen memahami produk sebelum membeli, merasakan manfaatnya sebelum memutuskan, dan mendapatkan dukungan setelah menggunakannya.

Pendekatan inilah yang menjadi salah satu fondasi Dekkson dalam mempertahankan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama bisnis handle dan kunci pintu di Indonesia.(***)


Tag: -

Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV