Fasilitas CNG Bio Farma Dorong Efisiensi Biaya Energi 37%
Bio Farma mengoperasikan fasilitas CNG untuk mendukung produksi, menekan emisi karbon, dan meningkatkan efisiensi biaya energi hingga 37%.
Fasilitas CNG Bio Farma digunakan untuk mendukung kebutuhan energi boiler dan proses produksi perusahaan.
INFOBRAND.ID, Jakarta – PT Bio Farma (Persero) resmi mengoperasikan fasilitas Compressed Natural Gas atau fasilitas CNG untuk mendukung kebutuhan energi di lingkungan perusahaan. Penggunaan fasilitas tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi biaya energi hingga sekitar 37% per tahun, tergantung tingkat utilisasi, kebutuhan produksi, harga energi, dan kondisi operasional.
Pengoperasian fasilitas CNG menjadi bagian dari transformasi operasional Bio Farma menuju pengelolaan energi yang lebih efisien, andal, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam pengembangannya, perusahaan berkolaborasi dengan PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas sebagai mitra penyedia dan pengelola layanan CNG.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma menggunakan CNG untuk mendukung kebutuhan energi boiler yang menghasilkan uap bagi kegiatan operasional dan proses produksi. Perusahaan menerapkan sistem dual fuel, dengan CNG sebagai bahan bakar utama dan solar sebagai sumber energi cadangan.
Direktur Operasi PT Bio Farma (Persero), Iin Susanti, mengatakan pengoperasian fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam transformasi operasional.
“Bio Farma terus memperkuat fundamental perusahaan melalui pengelolaan sumber daya yang efektif, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Langkah ini sekaligus memperkuat keandalan operasional yang mendukung keberlangsungan proses produksi dan kontribusi Bio Farma terhadap ketahanan kesehatan nasional.” ujar Iin.
Penggunaan CNG sebagai pengganti bahan bakar utama boiler diproyeksikan dapat menurunkan emisi karbon dioksida sekitar 24% dibandingkan penggunaan solar. Bio Farma menempatkan pemanfaatan CNG sebagai salah satu tahapan dalam proses transisi energi perusahaan karena memiliki intensitas emisi karbon lebih rendah.
“Keberlanjutan merupakan proses jangka panjang yang harus diwujudkan melalui langkah konkret, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ke depan, Bio Farma akan terus mengevaluasi pemanfaatan teknologi dan sumber energi yang lebih efisien serta rendah emisi, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan, kelayakan investasi, efisiensi, dan keandalan produksi,” ujar Iin.
Fasilitas CNG Bio Farma dilengkapi shelter penerimaan CNG, Pressure Regulating Station, sistem pengukuran atau metering, jaringan pipa distribusi, serta integrasi dengan burner dan panel kontrol boiler. Seluruh sistem dirancang untuk mengatur proses penerimaan, tekanan, penyaluran, dan penggunaan gas secara aman dan terukur.
Aspek keselamatan diterapkan sejak tahap perencanaan hingga pengoperasian. Sistem pengamanan mencakup deteksi kebocoran gas, penghentian aliran otomatis, pengaturan tekanan, proteksi kebakaran, dan pengujian integritas jaringan pipa.
Penerapan sistem dual fuel juga memberikan fleksibilitas dalam menjaga kontinuitas pasokan energi. Solar tetap tersedia sebagai cadangan apabila pasokan CNG mengalami gangguan atau kondisi operasional membutuhkan penyesuaian.
“Bio Farma juga akan menjalankan inspeksi, pemeliharaan preventif, pengujian peralatan, dan evaluasi risiko secara berkala untuk memastikan fasilitas beroperasi sesuai persyaratan teknis, keselamatan dan kesehatan kerja, serta ketentuan lingkungan yang berlaku,” tutur Iin.
Kolaborasi Bio Farma dan PGN Gagas meliputi kesiapan pasokan, pembangunan infrastruktur penerimaan dan penyaluran gas, serta dukungan teknis dan operasional. Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi.
“Kolaborasi dengan Bio Farma menjadi bagian dari komitmen kami memperluas manfaat CNG ke sektor-sektor esensial yang menopang kebutuhan dasar masyarakat, termasuk kesehatan. Keandalan pasokan energi di fasilitas produksi seperti Bio Farma sangat penting, karena menyangkut kesinambungan produksi yang berdampak langsung pada layanan kesehatan public,” ujar Santiaji.
Bio Farma dan PGN Gagas selanjutnya akan melakukan pemantauan terhadap konsumsi energi, efisiensi biaya, intensitas emisi, keandalan pasokan, serta kinerja keselamatan fasilitas. Hasil pemantauan akan digunakan sebagai dasar evaluasi dan perbaikan pengelolaan energi secara berkelanjutan.
Melalui pengoperasian fasilitas CNG, Bio Farma menargetkan peningkatan efisiensi biaya energi sekaligus menjaga ketahanan operasional dan kontinuitas proses produksi perusahaan.

