BTN Optimistis KPR Tetap Bertumbuh, Perubahan Perilaku Konsumen Jadi Tantangan
BTN
INFOBRAND.ID – Pasar kredit pemilikan rumah (KPR) nasional menghadapi tantangan di tengah perlambatan pertumbuhan. Meski demikian, peluang bisnis pembiayaan hunian dinilai masih terbuka lebar, terutama karena kebutuhan rumah pertama dan tingginya backlog perumahan di Indonesia.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN melihat industri KPR masih memiliki ruang pertumbuhan hingga akhir 2026. Perseroan memperkirakan pertumbuhan KPR industri berada di kisaran 8%–11% sepanjang tahun ini, meski realisasi pertumbuhan hingga pertengahan tahun masih menunjukkan perlambatan.
Data Bank Indonesia yang dikutip BTN menunjukkan pertumbuhan KPR hingga Mei 2026 berada di level sekitar 4,7%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang mencapai 5,5%.
Institutional Relationship Department Head BTN, Yulia Fitri Nurman, mengatakan perlambatan tersebut tidak serta-merta menghilangkan prospek pasar KPR. Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap hunian masih besar, khususnya dari kelompok yang sedang mencari rumah pertama.
“Kita yakin kalau pertumbuhan KPR itu pasti akan naik seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari pertumbuhan itu diprediksi 8%-11%, sedikit naik dari tahun 2025,” ujar Yulia dalam talkshow yang digelar Pinhome di Jakarta.
Konsumen Makin Rasional Memilih Hunian
Salah satu perubahan penting yang terjadi di pasar properti adalah bergesernya cara konsumen dalam mengambil keputusan. Jika sebelumnya rumah lebih banyak dipandang sebagai aset jangka panjang, kini kemampuan membayar cicilan menjadi salah satu pertimbangan utama.
Calon debitur semakin memperhatikan berbagai aspek sebelum mengambil KPR. Bukan hanya lokasi dan harga rumah, tetapi juga akses transportasi, kondisi bangunan, besaran angsuran, potensi perubahan cicilan, serta pilihan tenor yang sesuai dengan kemampuan finansial.
Perubahan perilaku tersebut turut memengaruhi jenis hunian yang diminati. Rumah secondary atau rumah bekas mulai mendapat perhatian lebih besar karena konsumen dapat langsung menempatinya tanpa harus menunggu proses pembangunan. Dengan begitu, biaya kontrakan dapat dialihkan menjadi pembayaran cicilan rumah.
Selain itu, fasilitas takeover KPR juga menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mendapatkan struktur pembiayaan yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan mereka.
Kenaikan suku bunga acuan turut mendorong minat terhadap skema tersebut. Ketika masa bunga tetap berakhir dan debitur mulai memasuki periode bunga mengambang, sebagian nasabah mencari alternatif pembiayaan dengan bunga lebih kompetitif atau tenor lebih panjang agar beban angsuran dapat ditekan.
Program Pemerintah Jadi Katalis
Optimisme terhadap pasar KPR juga tidak terlepas dari dukungan berbagai program pemerintah di sektor perumahan. BTN melihat program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) serta Manfaat Layanan Tambahan (MLT) BPJS Ketenagakerjaan dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan pembiayaan rumah.
MLT BPJS Ketenagakerjaan memiliki karakteristik skema pembiayaan yang menarik karena tingkat bunganya mengacu pada BI Rate dengan tambahan margin tetap 3%. Dengan mekanisme tersebut, perubahan suku bunga acuan berpotensi memengaruhi besaran cicilan yang harus dibayarkan debitur.
Bagi industri perbankan, keberadaan berbagai stimulus tersebut memberikan ruang untuk memperluas penetrasi pembiayaan perumahan sekaligus menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum memiliki akses KPR.
Peluang Besar di Tengah Pasar yang Selektif
Kondisi pasar KPR 2026 menunjukkan bahwa tantangan industri bukan semata-mata soal ada atau tidaknya kebutuhan rumah. Kebutuhan tersebut tetap tinggi, tetapi konsumen kini jauh lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.
Hal ini menjadi sinyal bagi pelaku industri properti dan perbankan untuk menawarkan produk yang semakin relevan dengan kemampuan konsumen. Fleksibilitas tenor, skema bunga, harga hunian, hingga kemudahan proses pembiayaan menjadi bagian penting dalam memenangkan calon pembeli.
Dengan backlog perumahan yang masih besar dan jumlah masyarakat usia produktif yang signifikan, pasar KPR Indonesia masih memiliki fondasi permintaan yang kuat. BTN pun tetap melihat ruang pertumbuhan industri hingga 8%–11% pada 2026.
Bagi industri properti, kondisi ini sekaligus menjadi momentum untuk beradaptasi. Bukan sekadar menjual rumah, tetapi menghadirkan solusi hunian dan pembiayaan yang mampu menjawab kebutuhan konsumen yang semakin kritis, selektif, dan berorientasi pada keberlanjutan finansial.

