TOSERBAKU Perkuat Bisnis TUKU Lewat Produk Ramah Lingkungan
Outlet Tuku
INFOBRAND.ID – Isu keberlanjutan semakin menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan sebuah brand. Tidak sekadar membangun citra positif, pendekatan ramah lingkungan kini mulai diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai komersial sekaligus memberikan dampak terhadap lingkungan.
Strategi tersebut juga dikembangkan Toko Kopi TUKU melalui lini bisnisnya, Toko Serba Tuku (TOSERBAKU). Memasuki tahun keempat, TOSERBAKU semakin serius mengembangkan produk ramah lingkungan dan upcycle sebagai salah satu motor pertumbuhan bisnisnya ke depan.
TOSERBAKU sendiri hadir sebagai pengembangan ekosistem TUKU di luar produk kopi. Berawal dari pengamatan terhadap kebutuhan konsumen atau yang akrab disebut “Tetangga”, lini bisnis ini kemudian berkembang menghadirkan beragam produk lifestyle yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Kini, keberlanjutan menjadi salah satu arah yang semakin diperkuat. Bagi TOSERBAKU, konsep ramah lingkungan tidak hanya diterapkan sebagai bagian dari kreativitas produk, tetapi juga masuk dalam strategi pengembangan brand.
VP Growth and Expansion TUKU, Diana Frances, menjelaskan bahwa potensi produk daur ulang dan upcycle masih terbuka luas seiring meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk yang memiliki fungsi sekaligus nilai keberlanjutan.
Menurutnya, pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadirkan dampak positif, tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga lingkungan dan komunitas yang terlibat dalam proses produksinya.
Olah 5,53 Ton Limbah Jadi Produk Bernilai
Komitmen terhadap produk ramah lingkungan sebenarnya telah dijalankan TOSERBAKU sejak beberapa tahun terakhir.
Salah satunya melalui pengolahan kantong krimer bekas yang dilakukan bersama UMKM di Gunung Sindur sejak 2020. Material plastik multilayer yang sebelumnya menjadi sisa operasional kemudian dimanfaatkan kembali menjadi produk dengan fungsi dan nilai ekonomi baru.
Hingga kini, program tersebut telah mengolah sekitar 5,53 ton kantong krimer menjadi lebih dari 25 jenis produk upcycle. Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari tote bag, pouch, coaster, furnitur hingga berbagai cinderamata toko.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan produk sebuah brand. Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah tidak langsung berakhir di tempat pembuangan, tetapi diberikan fungsi baru melalui desain dan proses kreatif.
Bahkan, dari sekitar 600 SKU produk yang dimiliki TOSERBAKU, sekitar 40% di antaranya merupakan produk upcycle. Kantong belanja menjadi salah satu produk hasil daur ulang yang mendapat respons cukup baik dari konsumen TUKU.
Sustainability Jadi Bagian dari Strategi Brand
Pengembangan produk ramah lingkungan tersebut menunjukkan adanya perubahan pendekatan terhadap sustainability. Keberlanjutan tidak lagi hanya ditempatkan sebagai aktivitas pendukung atau program tanggung jawab sosial, tetapi berpotensi menjadi bagian dari model bisnis.
Bagi TOSERBAKU, strategi tersebut dikembangkan melalui kombinasi antara desain, fungsi produk, storytelling, dan keberlanjutan.
Pendekatan ini menjadi penting karena produk ramah lingkungan tetap harus memiliki daya tarik bagi konsumen. Faktor sustainability dapat memberikan nilai tambah, namun desain, fungsi dan pengalaman menggunakan produk tetap menjadi bagian penting dalam mendorong keputusan pembelian.
Dalam pengembangan produknya, TUKU juga membuka ruang kolaborasi dengan kreator maupun brand lokal. Sejumlah nama yang telah terlibat antara lain Blasu Studio, Mortier, Stuffo, hingga kolaborasi lini fesyen bersama 347 Homebreaks.
Kolaborasi tersebut membuat TOSERBAKU tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjual merchandise, tetapi berkembang menjadi wadah yang mempertemukan identitas brand TUKU dengan kreativitas berbagai pelaku industri lokal.
TOSERBAKU Siapkan Pengembangan Baru
Dalam dua tahun mendatang, TOSERBAKU berencana memperluas pengembangan bisnis melalui berbagai inisiatif baru.
Eksperimen terhadap material baru bersama pengrajin serta inovator lokal menjadi salah satu fokus. Termasuk di dalamnya pemanfaatan material hasil daur ulang maupun sisa kegiatan operasional untuk dikembangkan menjadi produk baru.
Tidak berhenti pada produk, TOSERBAKU juga merencanakan program edukasi kepada publik mengenai pemilahan material dan konsep mindful consumption. Kolaborasi lintas brand juga akan diperluas untuk menggabungkan unsur kreativitas, fungsi produk dan keberlanjutan.
Strategi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana TUKU memperluas ekosistem brand-nya. Setelah dikenal kuat melalui bisnis kopi, pengembangan TOSERBAKU membuka ruang bagi perusahaan untuk membangun hubungan dengan konsumen melalui kategori produk yang lebih luas.
Bagi brand, langkah tersebut dapat menjadi contoh bahwa sustainability memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh dari sekadar komunikasi pemasaran. Ketika diintegrasikan dengan inovasi produk, kolaborasi dan kebutuhan konsumen, konsep ramah lingkungan dapat berkembang menjadi bagian dari value proposition sekaligus sumber pertumbuhan bisnis baru.

