Selasa, 08 September 2026

Follow us:

infobrand

Ray White Optimistis Pasar Properti Indonesia Tetap Sehat hingga 2027, Perkuat Jaringan dan Transformasi Digital

Ray White melihat pasar properti Indonesia semester II 2026 tetap sehat. Hunian siap huni, properti komersial, digitalisasi, dan ekspansi jaringan menjadi fokus menuju 2027.

Ray White Optimistis Pasar Properti Indonesia Tetap Sehat hingga 2027, Perkuat Jaringan dan Transformasi Digital Erwin Karya, Direktur Ray White Commercial & Project /Foto: Dok Ray White

INFOBRAND.ID– Masuk ke semester II di 2026, industri properti Indonesia menunjukkan dinamika yang semakin matang. Meski konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, permintaan terhadap properti dinilai masih terjaga, terutama pada sejumlah segmen dan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi serta infrastruktur yang kuat.

Ray White Indonesia melihat kondisi tersebut bukan sebagai perlambatan pasar, melainkan sebagai bagian dari proses pematangan industri properti nasional. Dalam kondisi pasar seperti saat ini, kepercayaan konsumen, kualitas layanan, serta kemampuan agen dalam memberikan konsultasi menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan transaksi.

Direktur Ray White Commercial & Project, Erwin Karya, mengatakan bahwa konsumen properti saat ini membutuhkan waktu yang lebih matang sebelum mengambil keputusan karena semakin banyak mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membeli maupun berinvestasi.

“Memasuki semester II 2026, pasar properti Indonesia bergerak dalam fase moderat namun sehat. Permintaan tetap ada, hanya saja konsumen semakin selektif dan membutuhkan waktu lebih matang sebelum memutuskan,” ujar Erwin Karya ketika diwawancarai TIM INFOBRAND.ID.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia mulai memasuki fase market maturity, di mana persaingan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh agresivitas penjualan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan maupun agen dalam membangun kepercayaan konsumen.

“Ray White melihat ini bukan sebagai perlambatan, melainkan pematangan pasar. Yang menang bukan lagi yang paling agresif menjual, tetapi yang paling terpercaya membimbing keputusan klien,” lanjut Erwin.

Kondisi tersebut sekaligus memperkuat strategi Ray White dalam mengembangkan agen sebagai konsultan properti yang mampu memberikan pendampingan kepada konsumen, bukan hanya berorientasi pada penjualan.

“Transaksi di jaringan kami tetap terjaga karena agen-agen kami dilatih menjadi konsultan, bukan sekadar penjual. Kepercayaan itulah yang paling dicari ketika pasar sedang berhati-hati,” ungkapnya.

Hunian Siap Huni hingga Properti Komersial Jadi Segmen Potensial

Dari sisi segmen, Ray White mencatat terdapat sejumlah kategori properti yang memiliki prospek menarik hingga akhir 2026.

Salah satunya adalah hunian sekunder dan properti siap huni di kawasan penyangga Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Peningkatan konektivitas dan pengembangan infrastruktur dinilai menjadi salah satu faktor yang turut mendorong minat masyarakat terhadap kawasan tersebut.

“Ray White melihat momentum kuat di tiga arah. Pertama, hunian sekunder atau siap huni di kota-kota penyangga seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok yang tumbuh seiring konektivitas infrastruktur baru,” kata Erwin.

Selain residensial, Ray White juga melihat potensi besar pada segmen properti komersial dan industri, khususnya pergudangan modern, sektor logistik, hingga data center.

“Segmen komersial-industri seperti pergudangan modern, logistik, dan data center menjadi motor investasi baru. Sementara aset residensial kelas menengah juga masih memiliki peluang yang menarik,” jelasnya.

Dari sisi wilayah, kawasan penyangga Jabodetabek dinilai masih memiliki prospek kuat. Selain itu, Ray White melihat peluang pertumbuhan pada sejumlah kota lapis kedua di luar Pulau Jawa, terutama daerah yang berkembang seiring aktivitas industri dan hilirisasi.

“Kawasan penyangga Jabodetabek dan kota-kota lapis kedua di luar Jawa yang didukung hilirisasi industri kami nilai mempunyai ruang pertumbuhan terbesar hingga akhir 2026,” ujar Erwin.

Konsumen Properti Semakin Digital, tetapi Human Touch Tetap Penting

Transformasi digital juga menjadi salah satu perubahan besar dalam industri properti Indonesia. Konsumen kini semakin terbiasa mencari informasi mengenai rumah, apartemen, tanah, maupun properti komersial melalui berbagai platform digital sebelum berkomunikasi dengan agen.

Namun demikian, Ray White menilai teknologi belum dapat sepenuhnya menggantikan peran agen properti, terutama karena transaksi properti merupakan keputusan finansial bernilai besar yang membutuhkan kepercayaan dan pendampingan.

“Perilaku konsumen kini digital-first, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan human touch. Mereka mencari properti secara online, tetapi tetap membutuhkan agen tepercaya untuk memvalidasi keputusan besar tersebut,” ungkap Erwin.

Karena itu, strategi digital Ray White diarahkan untuk memperkuat produktivitas dan kemampuan agen. Perusahaan terus mengembangkan integrasi platform digital dengan sistem pendukung berbasis data, sekaligus menjalankan program pelatihan secara berkelanjutan.

“Ray White terus memperkuat integrasi platform digital dengan pembekalan agen, mulai dari pelatihan berkelanjutan, sistem pendukung berbasis data untuk mempercepat pencocokan antara klien dan properti, hingga budaya kerja berbasis konsultasi,” jelasnya.

Menurut Erwin, teknologi seharusnya berperan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas layanan, bukan menggantikan interaksi manusia dalam proses transaksi properti.

“Tujuannya bukan menggantikan peran agen dengan teknologi, tetapi menjadikan teknologi sebagai alat agar agen dapat lebih fokus membangun kepercayaan dan memberikan pengalaman personal kepada klien,” tambahnya.

Kepercayaan Brand Jadi Modal Pertumbuhan Jaringan Ray White

Selain transformasi digital, kekuatan brand menjadi salah satu modal penting Ray White dalam menghadapi persaingan industri keagenan properti.

Ray White Indonesia telah mempertahankan Top Brand Award untuk kategori Property Agent selama 15 tahun berturut-turut. Bagi perusahaan, konsistensi tersebut tidak hanya menjadi pengakuan terhadap brand, tetapi sekaligus menggambarkan tingkat kepercayaan konsumen.

“Top Brand Award selama 15 tahun berturut-turut bukan sekadar penghargaan pencitraan. Itu menjadi cerminan bahwa kepercayaan konsumen terhadap Ray White nyata dan teruji dari waktu ke waktu,” pungkasnya.

Kepercayaan tersebut menjadi penting karena transaksi properti merupakan salah satu keputusan finansial terbesar bagi banyak konsumen.

“Kepercayaan adalah aset paling berharga di bisnis keagenan properti, karena keputusan properti merupakan keputusan besar yang membutuhkan rasa aman,” ujarnya.

Pada semester II 2026, Ray White memanfaatkan kekuatan brand tersebut untuk mendorong pengembangan jaringan sekaligus mendukung produktivitas agen.

“Kekuatan brand tersebut kami terjemahkan menjadi daya tarik bagi calon mitra franchise baru untuk bergabung, sekaligus menjadi modal bagi agen-agen di jaringan untuk membangun kepercayaan lebih cepat dengan klien sehingga dapat mempersingkat siklus dari prospek menjadi transaksi,” jelas Erwin.

Ray White Siapkan Ekspansi Jaringan hingga Penguatan Agen Bersertifikasi

Hingga akhir 2026, Ray White akan melanjutkan sejumlah agenda strategis untuk memperkuat pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Salah satu fokusnya adalah memperluas jaringan kantor secara selektif ke wilayah dengan potensi pertumbuhan properti yang tinggi. Selain ekspansi jaringan, perusahaan juga akan meningkatkan kualitas serta jumlah agen profesional dan bersertifikasi.

“Fokus utama kami hingga akhir tahun adalah memperluas jaringan kantor secara terukur ke wilayah-wilayah dengan pertumbuhan tinggi, meningkatkan kualitas dan jumlah agen bersertifikasi, serta memperkuat ekosistem digital-konsultatif yang sudah kami bangun,” ungkapnya.

Ray White juga melihat prospek industri properti memasuki 2027 dengan optimistis. Stabilitas pasar, dukungan kebijakan pemerintah, serta pemulihan pada sejumlah segmen properti komersial diharapkan memberikan momentum positif bagi industri.

“Kami optimistis pasar akan semakin stabil memasuki 2027, ditopang dukungan kebijakan pemerintah dan pemulihan bertahap di sektor perkantoran serta komersial,” katanya.

Meski optimistis terhadap pertumbuhan, Ray White menegaskan bahwa perusahaan tidak semata-mata mengejar ekspansi secara agresif. Fokus perusahaan tetap diarahkan pada pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

“Ray White berkomitmen untuk terus tumbuh secara berkelanjutan. Bukan tumbuh cepat sesaat, tetapi pertumbuhan yang mampu bertahan lama, sejalan dengan kepercayaan yang sudah dibangun selama hampir tiga dekade di Indonesia,” tutupnya.


Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV