Jum'at, 04 September 2026

Follow us:

infobrand

Central Proteina Prima Rapikan Portofolio, Entitas Anak di Singapura Masuk Proses Striking Off

PT Central Proteina Prima Tbk melakukan penataan entitas anak di Singapura. Langkah tersebut tidak berdampak material terhadap bisnis CPRO.

Central Proteina Prima Rapikan Portofolio, Entitas Anak di Singapura Masuk Proses Striking Off Central Proteina Prima

INFOBRAND.ID – PT Central Proteina Prima Tbk terus melakukan penataan terhadap struktur bisnisnya di tengah upaya perusahaan memperkuat kegiatan usaha utama di industri akuakultur.

Emiten dengan kode saham CPRO tersebut mengumumkan perubahan status salah satu entitas anaknya yang berbasis di Singapura, yakni CPP Intertrade Pte Ltd.

Entitas tersebut menjalani proses striking off melalui Accounting and Corporate Regulatory Authority atau ACRA Singapura.

Meski menyangkut perubahan struktur kelompok usaha, langkah tersebut dipastikan tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kondisi keuangan Central Proteina Prima.

CPP Intertrade Belum Pernah Beroperasi

Proses striking off merupakan mekanisme penghapusan suatu perusahaan dari daftar badan hukum di Singapura.

CPP Intertrade sebelumnya telah menerima pemberitahuan mengenai penerimaan pendaftaran striking off dari ACRA.

Apabila tidak terdapat keberatan hingga batas waktu yang ditentukan, perusahaan dapat dihapus dari daftar badan hukum dan kemudian dibubarkan secara administratif.

Hingga 16 Maret 2026, tidak terdapat keberatan terhadap proses tersebut.

Central Proteina Prima selanjutnya menunggu pemberitahuan final dari regulator Singapura untuk menyelesaikan proses administratif tersebut.

Hal yang menarik, CPP Intertrade disebut belum pernah menjalankan kegiatan operasional sejak perusahaan tersebut didirikan.

Karena itu, proses penghapusan entitas tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap bisnis utama CPRO.

Fokus CPRO Tetap pada Bisnis Akuakultur

Central Proteina Prima dikenal sebagai salah satu perusahaan yang memiliki jaringan bisnis cukup panjang di industri akuakultur Indonesia.

Aktivitas perusahaan meliputi produksi pakan ikan dan udang, pembibitan atau hatchery, produk kesehatan hewan akuatik hingga produk makanan berbasis hasil perikanan.

Portofolio tersebut membuat CPRO tidak hanya berada di bagian hulu industri.

Perusahaan juga memiliki eksposur terhadap aktivitas pengolahan dan pemasaran produk hasil perikanan, baik untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Model bisnis tersebut menjadi penting mengingat industri akuakultur tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan produksi ikan atau udang.

Ketersediaan pakan, kualitas benih, kesehatan hewan hingga distribusi produk menjadi bagian dari satu rantai industri yang saling berhubungan.

Pendapatan CPRO Hampir Rp10 Triliun

Di tengah penataan struktur perusahaan, bisnis utama Central Proteina Prima masih mencatatkan pertumbuhan.

Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar sekitar Rp9,95 triliun.

Angka tersebut meningkat sekitar 7,19% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp9,28 triliun.

Perusahaan juga mencatat laba usaha sekitar Rp790,65 miliar, meningkat dibandingkan Rp656,52 miliar pada 2024.

Pakan masih menjadi salah satu tulang punggung bisnis Central Proteina Prima.

Selain itu, perusahaan mendapatkan pendapatan dari produk makanan, benur dan sejumlah lini bisnis lainnya.

Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan perusahaan tetap bertumpu pada kegiatan operasional inti, bukan pada keberadaan CPP Intertrade.

Penataan Entitas Bisa Membuat Struktur Lebih Efisien

Dalam perusahaan dengan banyak anak usaha, keberadaan entitas yang tidak lagi memiliki fungsi bisnis dapat menambah kompleksitas administrasi.

Karena itu, proses restrukturisasi, likuidasi ataupun striking off terhadap perusahaan yang tidak aktif merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk membuat struktur kelompok usaha lebih sederhana.

Dalam kasus CPP Intertrade, entitas tersebut belum pernah beroperasi.

Artinya, penghapusan perusahaan tidak berarti Central Proteina Prima meninggalkan pasar ataupun lini bisnis utama tertentu.

Sebaliknya, langkah tersebut lebih mencerminkan penataan terhadap struktur badan usaha yang sudah tidak memberikan kontribusi terhadap operasional.

Tantangan Berikutnya: Pertumbuhan dan Profitabilitas

Setelah melakukan penataan struktur, tantangan utama Central Proteina Prima tetap berada pada pengembangan bisnis inti.

Industri akuakultur memiliki peluang besar seiring tingginya konsumsi produk perikanan dan berkembangnya pasar ekspor.

Namun sektor ini juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari harga bahan baku pakan, penyakit pada budidaya, kondisi lingkungan hingga perubahan daya beli konsumen.

Karena itu, kemampuan menjaga efisiensi dan produktivitas menjadi semakin penting.

Central Proteina Prima memiliki ekosistem bisnis yang luas untuk menangkap peluang tersebut.

Dengan pendapatan yang telah mendekati Rp10 triliun, langkah selanjutnya bukan sekadar memperbesar skala bisnis.

Kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas, meningkatkan efisiensi serta memusatkan sumber daya pada lini bisnis produktif akan menjadi faktor penting dalam menentukan pertumbuhan CPRO ke depan.


Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV