TBS Energi Jadi Pelopor Saham Hijau Transisi BEI, 92% Capex TOBA Dialokasikan ke Bisnis Hijau
TBS Energi Utama (TOBA) menjadi perusahaan pertama Indonesia yang meraih status Saham Hijau Transisi BEI. Sebanyak 92% capex 2025–2030 diarahkan ke kegiatan hijau.
Dok. Foto : Istimewa
INFOBRAND.ID – Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menuju ekonomi rendah karbon mendapat pengakuan dari pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan TBS sebagai perusahaan tercatat pertama di Indonesia yang memperoleh predikat Green Equity Transition atau Saham Hijau Transisi.
Penetapan tersebut berlaku efektif sejak 28 Agustus 2026, bersamaan dengan peluncuran perdana IDX Green Equity Designation oleh BEI. Dalam tahap awal ini terdapat tiga perusahaan yang memperoleh penetapan berbasis hijau, namun TBS menjadi satu-satunya yang masuk kategori Green Equity Transition.
Capaian tersebut menjadi menarik karena TBS sebelumnya dikenal memiliki eksposur besar terhadap bisnis batu bara. Kini, struktur bisnis perusahaan berangsur berubah seiring semakin besarnya kontribusi sektor pengelolaan limbah, ekosistem kendaraan listrik, serta kegiatan berkelanjutan lainnya.
Transformasi tersebut bahkan tercermin pada arah investasi perusahaan. Berdasarkan penilaian S&P Global Ratings, sebanyak 92% komitmen belanja modal TBS untuk periode 2025–2030 dikategorikan sebagai kegiatan hijau, tanpa alokasi untuk kegiatan terkait batu bara.
TBS Jadi Perusahaan Pertama Raih Green Equity Transition
IDX Green Equity Designation diperkenalkan BEI untuk memberikan informasi lebih terukur mengenai perusahaan tercatat yang kegiatan bisnis maupun proses transisinya selaras dengan ekonomi hijau dan rendah karbon.
Pada peluncuran perdananya, PT Hero Global Investment Tbk (HGII) dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) memperoleh kategori Green Equity, sedangkan TBS Energi Utama menjadi perusahaan pertama yang memperoleh kategori Green Equity Transition.
Kategori transisi tersebut ditujukan bagi perusahaan yang sedang menjalankan perubahan terukur menuju aktivitas ekonomi rendah karbon.
Dengan demikian, pencapaian TOBA bukan semata-mata terkait citra perusahaan hijau, melainkan berkaitan dengan perubahan model bisnis, komposisi pendapatan, arah investasi, tata kelola hingga transparansi keberlanjutan.
Direktur Utama sekaligus CEO TBS Energi Utama, Dicky Yordan, memandang pengakuan tersebut sebagai salah satu tonggak dalam perjalanan transformasi perusahaan, bukan sebagai tujuan akhir.
Menurutnya, penetapan dari BEI juga memberikan tolok ukur yang harus terus dipertahankan perusahaan dari tahun ke tahun sekaligus memberikan gambaran yang lebih terukur kepada investor mengenai perkembangan transformasi TBS.
92% Belanja Modal TOBA Mengarah ke Kegiatan Hijau
Salah satu indikator kuat di balik predikat Green Equity Transition TBS berasal dari arah penggunaan modal perusahaan.
TBS menjalani proses reviu oleh S&P Global Ratings. Dari penilaian tersebut, 92% komitmen belanja modal perseroan sepanjang periode 2025 hingga 2030 dinilai masuk dalam kegiatan hijau.
Menariknya, tidak terdapat alokasi belanja modal untuk aktivitas terkait batu bara dalam komitmen investasi tersebut. Angka ini berada jauh di atas ambang yang dipersyaratkan dalam kerangka penetapan BEI.
S&P Global Ratings juga menyoroti ambisi transformasi TBS dibandingkan perusahaan sejenis di Indonesia, termasuk target menuju netralitas karbon pada 2030 serta pengalihan modal menuju kegiatan non-batu bara.
Arah penggunaan modal tersebut menjadi salah satu indikator penting karena menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan tidak hanya ditempatkan sebagai program tambahan, tetapi masuk ke dalam keputusan investasi jangka panjang perusahaan.
Bisnis Non-Batu Bara Kini Sumbang 66,5% Pendapatan
Perubahan strategi TBS juga mulai terlihat nyata pada komposisi pendapatannya.
Pada tahun buku 2025, bisnis infrastruktur berkelanjutan non-batu bara masih memberikan kontribusi sekitar 47% terhadap pendapatan konsolidasi. Namun pada Semester I 2026, porsinya melonjak menjadi 66,5%.
Sementara kontribusi bisnis batu bara berada di kisaran 31,4%. Artinya, pendapatan dari bisnis non-batu bara kini telah mencapai lebih dari dua kali kontribusi segmen batu bara.
Perubahan tersebut menjadi indikator penting dalam transformasi TOBA. Jika sebelumnya batu bara menjadi salah satu sumber pendapatan utama perusahaan, kini mesin pertumbuhan mulai bergeser menuju bisnis yang memiliki orientasi keberlanjutan.
Segmen pengelolaan limbah menjadi salah satu motor utama dengan kontribusi sekitar 61,2% terhadap pendapatan dan sekitar 92% terhadap EBITDA konsolidasi pada Semester I 2026.
Di saat bersamaan, pendapatan dari ekosistem kendaraan listrik tercatat hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba Kotor TBS Lebih dari Dua Kali Lipat
Transformasi menuju bisnis berkelanjutan juga berjalan seiring dengan penguatan sejumlah indikator keuangan perusahaan.
Pada Semester I 2026, TBS membukukan pendapatan konsolidasi sekitar US$173 juta.
Sementara itu, laba kotor konsolidasi meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar US$28,2 juta.
Perbaikan juga terlihat dari arus kas operasi. Jika pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan mencatat arus kas operasi negatif US$31,6 juta, Semester I 2026 berbalik positif menjadi sekitar US$14,6 juta.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa perubahan portofolio bisnis TBS tidak hanya berkaitan dengan target keberlanjutan, tetapi mulai menghasilkan kontribusi nyata terhadap fundamental perusahaan.
Lima Pilar Penilaian Saham Hijau BEI
Untuk memperoleh IDX Green Equity Designation, perusahaan tidak hanya dinilai berdasarkan satu indikator.
Kerangka yang digunakan BEI mengacu pada lima pilar yang diadaptasi dari Green Equity Principles milik World Federation of Exchanges (WFE). Pilar tersebut mencakup kontribusi finansial, keselarasan dengan taksonomi, tata kelola, evaluasi berkala serta keterbukaan informasi kepada publik.
Perusahaan harus menunjukkan bahwa lebih dari separuh pendapatan tahunan atau lebih dari separuh belanja operasional dan belanja modalnya terkait kegiatan hijau maupun transisi sesuai dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Status tersebut juga bukan penghargaan permanen. Penetapan akan dievaluasi setiap tahun oleh penyedia reviu eksternal yang diakui, dan BEI dapat mengubah atau mencabut status apabila perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan.
Mekanisme evaluasi tersebut membuat Green Equity Transition berfungsi sebagai alat transparansi bagi pasar sekaligus mendorong perusahaan menjaga konsistensi strategi keberlanjutannya.
Transformasi TOBA dari Batu Bara Menuju Bisnis Berkelanjutan
Bagi TBS, predikat Saham Hijau Transisi menjadi validasi terhadap perjalanan transformasi yang sedang berlangsung.
Perusahaan kini mengembangkan portofolio bisnis pada sejumlah sektor, mulai dari pengelolaan limbah, energi terbarukan hingga ekosistem kendaraan listrik, sembari secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bisnis berbasis batu bara. Situs resmi TBS juga menempatkan lini-lini tersebut sebagai bagian dari portofolio bisnis perusahaan saat ini.
Perubahan paling nyata dapat dilihat dari komposisi pendapatan. Dalam waktu relatif singkat, bisnis non-batu bara yang pada 2025 belum mencapai separuh pendapatan perusahaan telah berkembang menjadi penyumbang mayoritas pendapatan pada Semester I 2026.
Diikuti dengan alokasi 92% komitmen capex 2025–2030 menuju kegiatan hijau, arah transformasi tersebut menunjukkan perubahan tidak hanya pada narasi perusahaan, tetapi juga pada sumber pendapatan serta keputusan investasinya.
Di tingkat global, penetapan saham hijau seperti ini juga masih relatif terbatas. Pasardana melaporkan kurang dari 20 perusahaan tercatat di dunia memiliki penetapan sejenis, setelah kerangka Green Equity mulai berkembang di sejumlah bursa internasional.
Hal tersebut memberi nilai strategis tersendiri bagi TBS sebagai perusahaan Indonesia yang sedang membangun positioning baru di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap bisnis rendah karbon dan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Namun, BEI menegaskan bahwa IDX Green Equity Designation bukan merupakan peringkat, rekomendasi investasi, ataupun jaminan terhadap kinerja dan tingkat pengembalian saham.
Bagi TBS, tantangan berikutnya adalah memastikan perubahan portofolio tersebut terus menghasilkan pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus mempertahankan standar keberlanjutan yang menjadi dasar penetapan Green Equity Transition.

