Saham SURI Menguat 7,5%, Maja Agung Latexindo Tunjukkan Sinyal Turnaround di 2026
Dok. Foto : Istimewa
INFOBRAND.ID – Emiten produsen sarung tangan lateks, PT Maja Agung Latexindo Tbk (SURI), kembali menarik perhatian pasar. Pada perdagangan Senin, 7 September 2026, saham SURI ditutup di level Rp86 per saham atau menguat 7,5% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp80.
Sepanjang perdagangan, harga saham SURI bergerak pada rentang Rp83 hingga Rp95 dengan volume transaksi sekitar 85,98 juta saham. Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap emiten sektor kesehatan tersebut.
Penguatan saham terjadi ketika fundamental perusahaan mulai memperlihatkan sinyal pemulihan setelah menghadapi tekanan kinerja dalam beberapa tahun terakhir. Memasuki 2026, Maja Agung Latexindo berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sekaligus membalikkan kerugian menjadi keuntungan.
Laba SURI Melonjak pada Semester I 2026
Perbaikan kinerja terlihat cukup kuat pada laporan keuangan semester I 2026. Maja Agung Latexindo mencatat pendapatan sebesar Rp77,6 miliar, naik 10,4% dibandingkan Rp70,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan yang lebih signifikan terlihat pada sisi profitabilitas. Laba kotor meningkat menjadi Rp13,1 miliar dari Rp7,8 miliar, sementara EBITDA melonjak menjadi Rp9,7 miliar dari sekitar Rp3 miliar.
Perseroan juga membukukan laba bersih Rp5,7 miliar, meningkat tajam dibandingkan laba Rp1,4 miliar pada semester I 2025. Margin laba bersih tercatat sekitar 7,3%.
Kinerja tersebut menjadi perkembangan penting bagi perusahaan mengingat sepanjang 2025 Maja Agung Latexindo masih membukukan kerugian.
Pada tahun buku 2025, perusahaan menghasilkan pendapatan Rp150,2 miliar, tumbuh 28,7% dibandingkan Rp116,7 miliar pada 2024. Kendati demikian, perusahaan masih mencatat rugi bersih sekitar Rp3,4 miliar, meski membaik dibandingkan kerugian Rp3,9 miliar pada tahun sebelumnya.
Dengan demikian, pencapaian laba pada semester pertama 2026 memperlihatkan adanya perubahan arah kinerja yang cukup signifikan bagi perseroan.
Mengenal Bisnis Maja Agung Latexindo
PT Maja Agung Latexindo Tbk merupakan perusahaan manufaktur berbasis di Deli Serdang, Sumatera Utara, yang telah menjalankan kegiatan komersial sejak 1988.
Bisnis utama perseroan bergerak dalam produksi sarung tangan berbahan lateks yang digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sektor kesehatan hingga industri. Produk sarung tangan perusahaan antara lain dipasarkan melalui merek Shamrock dan MyGuard.
Perseroan menjadi bagian dari ekosistem bisnis Shamrock Group yang dikendalikan pengusaha Hansen Jap. Selain Maja Agung Latexindo, kelompok usaha tersebut juga memiliki hubungan dengan PT Haloni Jane Tbk (HALO), emiten yang sama-sama bergerak dalam industri sarung tangan lateks.
Keberadaan dua perusahaan dalam sektor yang berdekatan membuat Shamrock Group memiliki eksposur cukup kuat dalam rantai industri produk berbasis lateks, khususnya untuk produk yang menyasar kebutuhan kesehatan dan industri.
Melantai di Bursa Sejak 2023
Maja Agung Latexindo resmi menjadi perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 7 Desember 2023 dengan kode perdagangan SURI.
Dalam penawaran umum perdana saham atau IPO, perusahaan menawarkan sebanyak 1,266 miliar saham baru dengan harga penawaran Rp170 per saham. Dengan jumlah tersebut, nilai penawaran sahamnya mencapai sekitar Rp215,37 miliar. BEI mencatat sebanyak 6,334 miliar saham SURI setelah proses pencatatan tersebut.
SURI masuk dalam sektor healthcare atau kesehatan dan tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia.
Setelah melantai di bursa, perjalanan harga saham perusahaan cukup dinamis. Pada Februari 2024, Bursa Efek Indonesia bahkan sempat melakukan penghentian sementara perdagangan saham SURI setelah harga saham melonjak signifikan dalam waktu relatif singkat.
Volatilitas tersebut menjadi salah satu karakter yang masih perlu diperhatikan ketika mencermati perjalanan saham perusahaan.
Pengendali Terus Tambah Kepemilikan
Dari sisi kepemilikan, Hansen Jap masih menjadi pemegang saham pengendali Maja Agung Latexindo.
Sepanjang 2026, terdapat sejumlah transaksi penambahan kepemilikan saham oleh Hansen Jap. Salah satunya pada Juli 2026 ketika ia membeli tambahan 660 ribu saham SURI pada rentang harga Rp64 hingga Rp65 per saham. Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya mencapai sekitar 5,416 miliar saham atau 85,50%.
Dominannya kepemilikan pemegang saham pengendali membuat porsi saham yang beredar di publik relatif terbatas. Kondisi free float yang rendah dapat membuat pergerakan saham lebih sensitif terhadap perubahan permintaan maupun volume transaksi di pasar.
Transformasi Kinerja Jadi Perhatian Pasar
Bagi Maja Agung Latexindo, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan momentum harga saham, tetapi memastikan perbaikan fundamental dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Setelah mengakhiri 2025 dengan kerugian Rp3,4 miliar, kemampuan perusahaan menghasilkan laba Rp5,7 miliar hanya dalam enam bulan pertama 2026 memberikan indikasi bahwa proses pemulihan bisnis mulai menunjukkan hasil.
Peningkatan laba kotor dan EBITDA juga menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya terjadi dari sisi penjualan, melainkan mulai diterjemahkan menjadi profitabilitas yang lebih baik.
Sementara dari perspektif brand dan korporasi, pengalaman panjang perusahaan sejak 1988, keberadaan merek produk seperti Shamrock dan MyGuard, serta jaringan bisnis Shamrock Group menjadi modal bagi perseroan untuk memperkuat posisi di industri produk kesehatan berbasis lateks.
Namun, konsistensi laba, kemampuan menjaga margin, perkembangan pasar ekspor, harga bahan baku lateks, serta likuiditas perdagangan saham tetap menjadi sejumlah indikator penting yang perlu dicermati ke depan.
Dengan saham SURI yang ditutup menguat 7,5% menjadi Rp86 pada 7 September 2026, perhatian pasar kini akan tertuju pada kemampuan PT Maja Agung Latexindo Tbk mempertahankan momentum turnaround sekaligus mengubah perbaikan kinerja semester pertama menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

