Unilever Indonesia Tepis Isu Penjualan Buavita, Tegaskan Kepemilikan Masih Utuh
Unilever Indonesia menegaskan tidak ada penjualan Buavita dan tetap fokus pada strategi bisnis serta pertumbuhan kinerja.
Unilever
INFOBRAND.ID, Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memberikan klarifikasi terkait beredarnya isu penjualan bisnis jus Buavita. Perseroan menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada transaksi penjualan yang dilakukan dan bisnis tersebut masih sepenuhnya berada di bawah kepemilikan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan UNVR, Mario Abdi Amrillah, menyampaikan bahwa tidak terdapat perjanjian jual beli apa pun yang telah ditandatangani dengan pihak lain terkait Buavita. “Bisnis jus Buavita masih dimiliki oleh perseroan dan hingga saat ini, perseroan tidak pernah menandatangani perjanjian jual beli apa pun terkait transaksi penjualan bisnis jus Buavita kepada pihak mana pun,” ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (14/4).
Ia juga menjelaskan bahwa apabila di masa mendatang terdapat aksi korporasi yang bersifat material, perseroan akan menyampaikannya secara terbuka sesuai ketentuan yang berlaku. “Pada tanggal surat ini tidak ada informasi atau kejadian material yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup maupun harga saham perseroan yang harus disampaikan kepada masyarakat,” tuturnya.
Berdasarkan laporan keuangan Tahun Buku 2025, merek Buavita masih tercatat sebagai aset tak berwujud yang dimiliki sejak tahun 2008. Isu divestasi sebelumnya mencuat setelah laporan DealStreetAsia menyebutkan bahwa UNVR tengah mempertimbangkan opsi tersebut sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa langkah divestasi, termasuk kemungkinan melepas Buavita, dikaitkan dengan upaya perusahaan untuk merampingkan portofolio dan lebih fokus pada kategori produk dengan pertumbuhan dan margin yang lebih tinggi di pasar domestik. Selain itu, disebutkan pula bahwa UBS berpotensi ditunjuk sebagai penasihat dalam rencana tersebut.
Sumber DealStreetAsia juga mengungkapkan adanya wacana penggabungan penjualan bisnis teh SariWangi dan Buavita dalam satu proses transaksi. “Namun pada akhirnya memilih untuk menjalankannya secara terpisah, mengingat kategori produk yang berbeda dan profil calon pembeli yang berbeda pula,” kata sumber anonim itu, dikutip DealstreetAsia, Kamis (9/4).
Di sisi global, perkembangan juga terjadi pada grup induk, Unilever PLC. Perusahaan tersebut dikabarkan mencapai kesepakatan dengan McCormick & Company untuk menggabungkan bisnis Unilever Foods. Entitas hasil penggabungan ini akan mencakup sejumlah merek global seperti McCormick, Knorr, dan Hellmann’s, serta merek dengan potensi pertumbuhan seperti Cholula, Maille, dan Frank’s RedHot. Portofolio gabungan ini disebut memiliki total pendapatan sekitar US$ 20 miliar.
Pemisahan bisnis tersebut diproyeksikan akan mengarahkan fokus Unilever pada segmen home and personal care (HPC), mencakup kategori kecantikan, kesehatan, perawatan pribadi, serta kebutuhan rumah tangga setelah transaksi selesai.
Dari sisi kinerja, UNVR mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,64 triliun sepanjang 2025, meningkat 126,87% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 3,36 triliun. Penjualan bersih perusahaan juga tumbuh 4,31% menjadi Rp 31,94 triliun dari Rp 30,62 triliun pada 2024.
Sebagian besar penjualan berasal dari pasar domestik dengan kontribusi sekitar Rp 31 triliun, sementara penjualan impor tercatat sebesar Rp 942,13 miliar. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 23,35 triliun, diikuti segmen makanan dan minuman sebesar Rp 8,58 triliun.
Di sisi biaya, harga pokok penjualan meningkat menjadi Rp 16,94 triliun dari Rp 16,06 triliun secara tahunan. Laba bruto tercatat Rp 14,99 triliun. Setelah memperhitungkan berbagai beban operasional, perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp 4,59 triliun.
Dari neraca keuangan, total aset UNVR tercatat sebesar Rp 20,01 triliun dengan liabilitas mencapai Rp 15,54 triliun hingga akhir 2025.
Memasuki 2026, Direktur Utama UNVR Banjie Yap menyampaikan bahwa perusahaan tetap menjalankan strategi yang telah ditetapkan dengan fokus pada penguatan merek dan distribusi. Perseroan berencana meningkatkan investasi pada merek utama dan memperluas saluran distribusi, termasuk e-commerce serta kanal kesehatan dan kecantikan.
Selain itu, UNVR juga akan memperluas jangkauan ke perdagangan umum serta melakukan transformasi dalam model pemasaran guna mendukung keberlanjutan bisnis. Strategi ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Dengan penegasan tersebut, Unilever Indonesia memastikan bahwa isu penjualan Buavita tidak sesuai dengan kondisi saat ini, dan setiap perkembangan terkait aksi korporasi akan disampaikan melalui keterbukaan informasi resmi.


