Melalui Blue Phoenix, WGSH Siap Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Teknologi dari Limbah Plastik
WGSH Siap Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Teknologi dari Limbah Plastik.
INFOBRAND.ID, JAKARTA – PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) memperkuat komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui Blue Phoenix, sebuah proyek ekonomi sirkular yang berfokus pada pengolahan dan perdagangan material daur ulang berbasis plastik PET. Inisiatif ini menjadi salah satu motor pertumbuhan baru Perseroan sekaligus mencerminkan strategi diversifikasi yang menggabungkan potensi bisnis dan dampak lingkungan.
Blue Phoenix dijalankan melalui
PT Qorser Teknologi dan berfokus pada perdagangan material daur ulang berupa
PET flakes yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri. Dengan
meningkatnya kebutuhan dunia terhadap material ramah lingkungan, Perseroan melihat
peluang besar untuk membangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara
ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan limbah
plastik.
Dari sisi technology infusion,
WGSH tengah mengembangkan berbagai inisiatif berbasis teknologi yang mendukung
proses pengumpulan dan pengelolaan sampah plastik. Inisiatif tersebut
mengintegrasikan kendaraan listrik, Internet of Things (IoT), dan reverse
vending machine untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan bahan baku sekaligus
memperkuat ekosistem ekonomi sirkular yang sedang dibangun Perseroan.
Dari sisi financial impact, Blue
Phoenix diproyeksikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi WGSH.
Perseroan menargetkan bisnis ini mampu menghasilkan pendapatan berulang
(recurring revenue) sebesar Rp100 miliar hingga Rp200 miliar per tahun seiring
dengan pengembangan rantai nilai bisnis dari perdagangan PET flakes menuju
sektor hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Komisaris Utama PT Wira Global
Solusi Tbk, Ikin Wirawan, menjelaskan bahwa optimisme tersebut didasarkan pada
kuatnya permintaan industri terhadap material daur ulang berbasis PET. Saat ini
Blue Phoenix memiliki kapasitas perdagangan sekitar 1.200 ton PET flakes per
bulan dan melihat peluang pertumbuhan yang besar seiring meningkatnya kebutuhan
industri terhadap bahan baku ramah lingkungan.
Menurut Ikin, Blue Phoenix
bekerja sama dengan fasilitas pengolahan PET berteknologi tinggi yang mampu
mengolah serpihan plastik daur ulang (PET flakes) menjadi bahan baku berkualitas
tinggi yang dapat digunakan kembali oleh industri. Tahapan lanjutan tersebut
meliputi proses pemurnian, pembentukan butiran plastik daur ulang (rPET
pellets), hingga peningkatan kualitas material agar memenuhi standar industri
makanan dan minuman (food grade).
“Jika membeli fasilitas pengolahan untuk tahapan tersebut dalam kondisi baru, nilai investasinya bisa mencapai sekitar Rp400 miliar. Di Indonesia, jumlah perusahaan yang memiliki teknologi seperti itu masih sangat terbatas,” ujar Ikin.
Dia menambahkan bahwa tantangan
utama bisnis daur ulang saat ini justru bukan terletak pada sisi permintaan,
melainkan pada ketersediaan bahan baku.
“Dari sisi demand kami tidak
terlalu khawatir. Bahkan tantangan yang sering kami hadapi justru berada pada
sisi supply, yaitu mendapatkan bahan baku sampah plastik yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Dengan kapasitas perdagangan yang
telah mencapai sekitar 1.200 ton per bulan dan peluang pengembangan ke sektor
hilir, Perseroan melihat ruang pertumbuhan yang masih sangat besar. Ke depan,
WGSH membuka peluang ekspansi ke sektor downstream, termasuk pengembangan
industri berbasis material daur ulang, sekaligus memperkuat rantai pasok untuk
memperoleh bahan baku yang lebih efisien. Pengembangan Blue Phoenix saat ini
didukung oleh dana yang berasal dari balance sheet Perseroan serta hasil
corporate action yang dilakukan perusahaan.
Pada aspek ESG, Blue Phoenix
memiliki dampak yang sangat relevan dengan agenda keberlanjutan global.
Penggunaan recycled PET (rPET) diketahui mampu menurunkan emisi karbon
dibandingkan plastik berbahan baku baru. Selain itu, meningkatnya pemanfaatan
material daur ulang juga mendukung terciptanya ekonomi sirkular yang mengurangi
tekanan terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi
masyarakat.
Ikin Wirawan menyatakan bahwa
WGSH percaya masa depan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan
menghasilkan keuntungan, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan dampak positif
bagi lingkungan dan sosial.
“Blue Phoenix kami kembangkan
sebagai platform yang mampu menghubungkan aspek bisnis, teknologi, dan
keberlanjutan dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” tegasnya.
Ke depan, Perseroan berencana
memperluas rantai nilai Blue Phoenix, baik ke sektor hulu melalui penguatan
sistem pengumpulan sampah maupun ke sektor hilir melalui pengembangan produk
berbasis material daur ulang. Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat
posisi WGSH sebagai perusahaan holding berbasis teknologi yang aktif mendorong
transformasi menuju ekonomi hijau.
“Blue Phoenix baru satu dari
proyek WGSH. Selain ini juga ada proyek lain yakni Landlogic dan Tumbara,”
ungkapnya lagi.
Landlogic merupakan proyek
pengembangan properti yang dijalankan setelah WGSH mengakuisisi PT Lereng
Lembah Madu pada 2025. Setelah proses akuisisi, lahan yang dimiliki telah
di-splitzing menjadi 178 kavling perumahan yang siap dikembangkan dan
dipasarkan. Proyek ini menjadi salah satu aset strategis WGSH dalam menjawab
kebutuhan hunian yang terus meningkat di Indonesia.
Sementara itu, Tumbara adalah perusahaan distribusi produk pangan yang berfokus pada komoditas seafood. WGSH memiliki kepemilikan saham sebesar 10% dan menjalin kerja sama dalam memasok udang vannamei kepada salah satu jaringan supermarket nasional di Indonesia. Proyek ini memperkuat posisi WGSH dalam sektor ketahanan pangan dan distribusi produk perikanan bernilai tambah.


