Amar Bank Soroti Potensi UMKM dalam Penguatan Ekonomi Digital
Amar Bank menyoroti potensi UMKM sebagai penggerak ekonomi digital sekaligus memperluas akses pembiayaan melalui solusi perbankan digital.
Diskusi Amar Bank menyoroti potensi UMKM sebagai penggerak ekonomi digital Indonesia.
INFOBRAND.ID, Jakarta – PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) menegaskan peran perbankan digital dalam memperkuat ketahanan ekonomi digital Indonesia, khususnya melalui pemberdayaan potensi UMKM yang dinilai masih sangat besar. Hal ini disampaikan dalam acara Digital Banking & Economic Outlook 2026: Awakening Indonesia’s Sleeping Giant yang diselenggarakan Amar Bank di Jakarta, Selasa (10/3).
Dalam forum tersebut, Amar Bank menyoroti posisi UMKM sebagai “sleeping giant” yang memiliki potensi besar bagi perekonomian nasional. Meski demikian, sektor ini masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait akses terhadap layanan keuangan formal dan pembiayaan yang sering kali disertai berbagai persyaratan administratif.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menyampaikan bahwa perbankan digital dapat berperan membuka akses keuangan yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
“Kami melihat potensi besar UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional yang perlu diakselerasi pertumbuhannya. Melalui solusi keuangan digital yang aman, andal, dan mudah diakses, perbankan digital dapat membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM untuk tumbuh lebih produktif dan berdaya saing. Di Amar Bank, kami berkomitmen untuk awakening Indonesia’s sleeping giant dengan memberdayakan jutaan UMKM agar dapat memanfaatkan ekosistem keuangan digital secara optimal serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan tangguh,” ujar Vishal Tulsian dikutip dari keterangan resmi, Rabu (11/3).
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. Ia menyebut keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi salah satu tantangan utama bagi UMKM di Indonesia. Menurutnya, meskipun pemerintah menargetkan porsi kredit UMKM mencapai 30 persen dari total kredit perbankan, realisasi saat ini masih berada di kisaran 20 persen.
“Ini disebabkan salah satunya oleh tingkat adopsi layanan keuangan yang masih timpang antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Selain itu, banyak pelaku UMKM menghadapi hambatan administratif dalam mengakses pembiayaan dari perbankan, sehingga mereka masih mengandalkan modal pribadi maupun pinjaman dari keluarga,” jelas Nailul.
Pertumbuhan ekonomi digital yang terus meningkat dinilai memperkuat kebutuhan akan layanan keuangan yang lebih inklusif dan mudah diakses oleh pelaku usaha kecil. Menanggapi kondisi tersebut, Senior Vice President of MSME Amar Bank, Josua Sloane Solagracia, menjelaskan bahwa perusahaan berupaya menghadirkan solusi yang membantu UMKM mengelola usaha secara lebih terstruktur.
“Amar Bank membantu pelaku UMKM menata administrasi dan pengelolaan keuangan usaha secara lebih rapi, terstruktur, dan terdokumentasi melalui Amar Bank Bisnis. Solusi ini tidak hanya mendukung efisiensi operasional sehari-hari, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis jangka panjang. Dengan rekam jejak keuangan yang lebih baik, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk dinilai layak secara objektif oleh lembaga keuangan dan mengakses pembiayaan formal secara lebih luas,” ujar Josua.
Di tengah dinamika ekonomi tahun ini, Amar Bank menyatakan tetap optimistis melanjutkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat profitabilitas yang stabil serta pertumbuhan penyaluran kredit.
Head of Finance Amar Bank, Yosua Sullivan, menyampaikan bahwa capaian tersebut didukung oleh strategi penyaluran kredit yang mengedepankan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang terjaga. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan rasio Non-Performing Loan (NPL) tetap berada pada tingkat yang sehat dan kualitas kredit terjaga.
Ke depan, Amar Bank akan berfokus memperkuat pengembangan produk dan layanan digital, memperluas ekosistem pembayaran, serta menghadirkan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital dan analisis data juga diarahkan untuk menyederhanakan proses pengajuan kredit serta mempercepat pengambilan keputusan pembiayaan.
Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank, Kevin Kane, menjelaskan bahwa perusahaan terus mengembangkan inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi proses perbankan.
“Seiring dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, Amar Bank akan terus mengeksplorasi berbagai inovasi dan membangun infrastruktur teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi bank. Melalui penerapan otomatisasi, proses underwriting secara real-time, serta analisis perilaku nasabah, kami dapat menghadirkan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat, aman, dan akurat. Pada akhirnya, pendekatan ini memungkinkan Amar Bank untuk menghadirkan solusi finansial yang lebih responsif terhadap kebutuhan nasabah, sekaligus mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan finansial mereka,” kata Kevin.
Melalui penguatan layanan digital dan inovasi teknologi, Amar Bank menyatakan terus mengembangkan ekosistem perbankan digital yang mendukung akses keuangan bagi UMKM serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.


